
Harga minyak Brent turun tajam meski gangguan di Selat Hormuz tetap berlanjut, menambah ketidakpastian bagi pasar energi global. Pasar energi menghadapi ketidakpastian yang meningkat karena faktor geopolitik dan dinamika pasokan. Para pelaku pasar mencoba membaca arah harga di tengah angka-angka stok yang tinggi dan permintaan yang berpotensi melemah. Cetro Trading Insight menyoroti bahwa pergerakan harga saat ini tidak hanya mencerminkan faktor geopolitik, tetapi juga respons kebijakan regional terhadap pasokan global.
Menurut Citi, penurunan sekitar USD14 dalam seminggu terakhir didorong oleh pelepasan cadangan strategis, tingginya persediaan global, dan konsumsi minyak yang lebih lemah di negara berkembang. Penilaian kami menambahkan bahwa pasar juga memperhitungkan penurunan tajam impor minyak mentah China, yang diperkirakan turun menjadi 2,4 juta b/d pada April–Mei dari rata-rata 2025 sebesar 11,6 juta b/d. Kondisi demikian membantu meredam tekanan pada pasokan global.
Secara keseluruhan, pasar tetap mengamati durasi risiko geopolitis Selat Hormuz, sambil menimbang faktor-faktor fundamental lainnya. Cetro Trading Insight menekankan bahwa volatilitas bisa tetap tinggi jika negosiasi AS-Iran mengalami hambatan lebih lanjut. Pedagang disarankan memonitor data stok global dan dinamika permintaan negara berkembang sebagai kunci arah pergerakan Brent ke depan.
Citi menguraikan bahwa permintaan minyak global masih terkait dengan laju pemulihan ekonomi dan aktivitas manufaktur di berbagai negara. Penurunan impor China menambah asupan faktor penyeimbang pada pasar, meskipun negara tersebut juga melakukan langkah-langkah untuk menyehatkan neraca perdagangannya. Perubahan dalam kebijakan penyimpanan dan ekspor produk olahan menjadi bagian penting dari respons global terhadap fluktuasi harga.
China dilaporkan meninjau ulang strategi stok minyaknya dan mengurangi akumulasi cadangan untuk meredam tekanan harga domestik. Sementara itu, pengurangan ekspor produk olahan menjadi bagian dari upaya menjaga likuiditas pasokan minyak di pasar internasional. Namun, penyesuaian tersebut tidak menghapus risiko terkait gangguan pasokan yang bisa muncul jika ketegangan geopolitik kembali meningkat.
Cetro Trading Insight menilai kombinasi antara kebijakan China dan dinamika global dapat memperpanjang masa ketidakpastian harga minyak. Meski demikian, kita tetap melihat adanya peluang bagi investor yang mampu memahami sinyal permintaan dan pasokan. Investor disarankan mengikuti pembaruan kebijakan energi dari otoritas utama dan komentar analis independen untuk insight lebih lanjut.
Meskipun harga berfluktuasi, Citi mempertahankan pandangan bullish jangka pendek untuk Brent, dengan target sekitar USD120 per barel dalam 0–3 bulan. Proyeksi ini didukung oleh dinamika pasokan yang lebih ketat dan ekspektasi permintaan global yang mulai menunjukkan tanda pemulihan pada kuartal kedua. Namun, volatilitas tetap tinggi karena risiko geopolitik di Selat Hormuz bisa datang kapan saja.
Riset menunjukkan angka rata-rata USD110 untuk Brent di kuartal kedua, kemudian turun menjadi USD95 pada kuartal ketiga dan USD80 pada kuartal keempat jika tren permintaan melemah. Skenario ini menekankan pentingnya diversifikasi risiko bagi trader yang ingin mengambil posisi di pasar minyak. Investor perlu waspada pada perubahan kebijakan negara produksi utama dan arus perdagangan global yang dapat mengubah jalur harga.
Untuk eksekusi trading, rekomendasi konsisten adalah masuk posisi dengan price open sekitar USD111, menetapkan stop loss di USD105, dan target take profit di USD120. Rasio risiko-imbalan yang diusung adalah minimal 1:1.5, sejalan dengan standar analisis kami. Tetap perhatikan potensi gangguan di Selat Hormuz karena faktor geopolitik bisa mengubah arah pasar secara mendadak.