Harga minyak dunia melaju dalam tempo yang belum pernah terjadi sebelumnya, didorong oleh kekhawatiran investor terhadap meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang bersiap melanjutkan perundingan. Investor menimbang risiko geopolitik terhadap pasokan minyak dan dampaknya pada harga jangka menengah. Kondisi geopolitik di wilayah Teluk meningkatkan volatilitas pasar energi secara keseluruhan.
Brent ditutup naik sekitar 0,87 persen ke 69,40 dolar per barel, sementara WTI menguat sekitar 1,05 persen menjadi 64,63 dolar per barel. Pergerakan harga ini mencerminkan respons pasar terhadap potensi gangguan pasokan serta dinamika negosiasi yang sedang berlangsung. Katalis teknis dan sentimen investor berkontribusi pada kenaikan tipis meski ada faktor penahan dari persediaan.
Analyst menekankan bahwa meski nada retorika terkadang keras, belum ada tanda eskalasi besar saat ini. Menurut Andrew Lipow dari Lipow Oil Associates, pasar tetap tertopang oleh ketegangan antara AS dan Iran serta negosiasi yang masih berlanjut tanpa penyelesaian jelas. Dalam laporan analitis, Cetro Trading Insight menilai bahwa risiko geopolitik bisa menjaga arah harga tetap tinggi dalam beberapa minggu mendatang.
Di sisi lain, laporan mingguan EIA menunjukkan lonjakan persediaan minyak mentah AS sebesar 8,5 juta barel pada pekan terakhir, melampaui ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan sekitar 793.000 barel. Lonjakan pasokan domestik menimbulkan pembatasan terhadap tekanan harga meskipun permintaan tetap sehat dari sektor transportasi dan industri. Produksi dalam negeri juga menunjukkan pemulihan yang mendongkrak tekanan pada harga.
Data tenaga kerja AS menunjukkan kekuatan ekonomi yang mendasari permintaan bahan bakar. Pengangguran turun menjadi 4,3 persen dan lapangan kerja tumbuh secara tak terduga pada Januari, menambah kepercayaan bahwa permintaan energi akan tetap kuat. Analis seperti Rystad Energy menilai pasar tenaga kerja yang stabil memperkuat pandangan bahwa prospek permintaan minyak ke depan tetap solid.
Di sisi pasokan untuk jangka menengah, OPEC mempertahankan proyeksi pasokan dan permintaan minyak global, meskipun permintaan global terhadap minyak dari kelompok yang lebih luas diperkirakan turun sekitar 400.000 barel per hari pada kuartal II dibandingkan kuartal I. Produksi minyak Rusia juga turun sekitar 0,6 persen pada Januari dibanding Desember. Sementara Mesir mengarahkan perusahaan minyak internasional untuk menggandakan produksi pada 2030 melalui revisi kontrak guna merangsang investasi baru, sebagaimana diungkapkan kepada Reuters.