Warren Patterson dari ING menyoroti bahwa pasar minyak secara terus-menerus menilai risiko gangguan aliran melalui Selat Hormuz sebagai hambatan pasokan yang berpotensi bertahan lebih lama daripada perkiraan awal. Dalam laporan terbaru, sekitar 8 juta b/d minyak mentah telah tertutup operasionalnya sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan pasar. Cetro Trading Insight menilai gambaran ini sebagai sinyal bahwa sentimen pasar akan tetap responsif terhadap risiko geopolitik di wilayah tersebut.
Faktor utama yang mendorong skenario ini adalah kapasitas cadangan yang relatif sangat terbatas, respons produksi AS yang cenderung lambat, serta keterbatasan alternatif aliran minyak yang tersedia. Ketiga elemen itu membatasi kemampuan pasar untuk menahan gangguan besar tanpa mendorong harga ke level yang lebih tinggi. Laporan ING menekankan bahwa dinamika ini dapat bertahan meski ada toleransi permintaan yang lebih fleksibel di beberapa pasar.
Menurut data yang dirujuk IEA, sekitar 8 juta b/d produksi minyak mentah telah tertutup hingga saat ini. Penyangga cadangan yang minim mengurangi ruang bagi produsen untuk menopang aliran pasar. Karena itu, pasar perlu menunggu respons yang lebih jelas dari pemasok utama, sambil menjaga arus pasokan agar tidak terputus sepenuhnya.
Seiring berjalannya waktu, respons tambah pasokan, terutama dari Amerika Serikat, diperkirakan akan muncul namun terlalu lambat untuk menutupi kerugian saat ini. Analisis ini menilai bahwa tambahan pasokan AS mungkin memerlukan waktu setidaknya enam bulan sebelum dapat online secara penuh, dengan skala yang hanya sebagian kecil dari kehilangan produksi sekarang.
OPEC dan kapasitas spare adalah kunci dalam konteks ini, tetapi sebagian besar kapasitas cadangan saat ini berada di wilayah Teluk Persia sehingga manfaatnya menjadi terbatas ketika aliran utama tidak melalui Hormuz. Kondisi ini membuat pasar semakin tergantung pada bagaimana aliran minyak dapat dipulihkan secara bertahap sambil menahan tekanan harga.
Secara keseluruhan, skenario ini mengindikasikan bahwa harga minyak dapat tetap tinggi untuk jangka waktu tertentu sambil menyeimbangkan pasar melalui respons permintaan. Ketidakpastian mengenai kapan aliran normal akan pulih menambah volatilitas harga dan menantang strategi manajemen risiko bagi para pelaku pasar energi.
Dalam konteks ini, volatilitas harga minyak diperkirakan akan menjadi bagian dari dinamika pasar yang berkelanjutan. Meskipun ada peluang pemulihan produksi, tidak ada jalur cepat untuk normalisasi aliran minyak, sehingga investor perlu mempertimbangkan skenario harga yang lebih fluktuatif.
Nilai-nilai risiko geopolitik di Hormuz menambah ketidakpastian terhadap prospek permintaan global dan rencana produksi jangka panjang. Pasar energi kemungkinan akan tetap sensitif terhadap berita terkait aliran minyak, serta kebijakan negara produsen utama di masa depan.
Singkatnya, para pelaku pasar perlu menjaga strategi manajemen risiko yang memadai terhadap potensi perubahan mendadak pada likuiditas minyak mentah, dengan fokus pada volatilitas dan peluang hedging di tahun 2026.