Analisis dari para peneliti Standard Chartered, Ethan Lester dan Madhur Jha, menunjukkan bahwa lonjakan harga minyak sering diteruskan ke biaya pupuk dengan cepat. Ketergantungan produksi pupuk pada input energi membuat perubahan harga energi menjadi sinyal utama bagi biaya agrikultur. Pada saat yang sama, biaya transportasi juga meningkat, memperluas dampak ke harga pangan secara luas.
Sejak mulainya konflik antara AS/Israel dan Iran, banyak pemerintah menahan diri dari intervensi langsung untuk menahan inflasi pangan melalui pasar. Alasan utamanya adalah kenaikan gas alam—yang lebih relevan untuk pupuk—cenderung bersifat transitori jika dibandingkan lonjakan harga minyak. Di samping itu, negara tetap memiliki komitmen struktural terhadap sektor pertanian yang perlu dipertimbangkan.
Keterjangkauan pupuk sudah tertekan karena langkah proteksionis oleh beberapa ekonomi besar, seperti China dan Uni Eropa. Kondisi tersebut menambah risiko inflasi pangan lebih lanjut meskipun harga energi sedang berubah. IMF memperkirakan bahwa peningkatan harga minyak sebesar 10% sepanjang satu tahun bisa mendorong inflasi global sekitar 40 basis poin. Selain itu, perilaku konsumen—yang cenderung sangat peka terhadap harga barang yang dibeli secara rutin—dapat menyebabkan variasi inflasi pangan antar negara.
Menurut Cetro Trading Insight, dinamika harga minyak terkait erat dengan biaya input pupuk, biaya logistik, dan harga pangan global. Pasar pupuk sangat rentan terhadap pergerakan minyak karena jalur pasokan utama kerap terpapar pada rute strategis seperti Selat Hormuz. Kejadian ini meningkatkan volatilitas harga produk saat permintaan tetap kuat.
Indikator IMF menunjukkan korelasi kuat antara kenaikan harga minyak dan laju inflasi global; sebuah kenaikan 10% tahun ini bisa menambah inflasi sekitar 40 basis poin. Dalam konteks ini, kebijakan pasar dan pembatasan perdagangan dapat memperparah biaya pupuk dan meningkatkan risiko gelombang harga pangan di berbagai wilayah.
Selain itu, pembatasan perdagangan dan proteksionisme di beberapa ekonomi besar memperparah bottleneck pasokan pupuk. Hal ini meningkatkan kebutuhan bagi otoritas untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan dukungan bagi sektor pertanian serta produsen pangan.
Catatan: Analisis ini disusun untuk memberikan wawasan makro pada pembaca; pergerakan harga di masa depan tetap bergantung pada dinamika geopolitik, kebijakan nasional, dan perkembangan pasar energi.