Minyak Turun Didorong Ketegangan Iran-AS dan Dolar Menguat
Minyak dunia terjun ke panggung ketidakpastian geopolitik: meskipun sinyal dialog Iran-AS makin terang, pasar energi berputar cepat dalam volatilitas yang sedang berlangsung. Para pelaku pasar menilai apakah langkah diplomatik akan mengurangi risiko gangguan pasokan. Di sisi lain, dinamika dolar dan faktor musiman turut membentuk arah harga minyak dalam beberapa hari mendatang.
Brent futures turun 4,4% ke USD66,30 per barel, sementara WTI turun 4,7% ke USD62,14 per barel. Penurunan tersebut menunjukkan bagaimana pasar merespons rilis berita tentang dialog geopolitik, serta tekanan dari dolar yang menguat dan ekspektasi bahwa produksi global tetap dibatasi dalam jangka pendek.
Pembicaraan Iran-AS direncanakan dilanjutkan pada Jumat, dan pejabat kedua negara kepada Reuters menuturkan kemajuan. Trump menyatakan Iran sedang serius berbicara beberapa jam setelah Ali Larijani menyebut persiapan untuk perundingan tengah berjalan. Sentimen pasar menyeimbangkan ketakutan terhadap eskalasi dengan prospek peluang solusi diplomatik.
Dolar AS menguat seiring investor menimbang arah kebijakan moneter yang diprediksi akan dipimpin oleh Fed. Penguatan dolar membuat minyak berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, menambah tekanan pada permintaan global. Kondisi ini memperkuat sudut pandang bahwa sisi fundamental kemungkinan menekan harga minyak lebih lanjut.
Prakiraan cuaca di AS diperkirakan lebih hangat, sehingga permintaan pemanas berpotensi menurun. Harga diesel berjangka—induk bagi pemanas dan pembangkitan listrik—turun lebih dari 6%, menambah gambaran permintaan energi yang belum pulih. Analisis menunjukkan bahwa faktor cuaca dan pasokan saling mempengaruhi dalam jangka pendek.
Dalam konteks pasokan, OPEC+ sepakat mempertahankan produksi minyak untuk Maret pada pertemuan Minggu. Ini sejalan dengan langkah November yang membekukan rencana kenaikan produksi Januari–Maret 2026 karena permintaan melemah secara musiman. Sementara itu, fenomena polar vortex di AS sempat mendorong WTI naik 14% dan Brent naik 16% sepanjang Januari; fokus pasar kini kembali beralih ke tingkat persediaan global yang melewati ekspektasi.