Dalam langkah yang memantik dinamika industri ritel nasional, PT Matahari Putra Prima Tbk MPPA meluncurkan ekspansi agresif melalui akuisisi properti yang berada di wilayah strategis Pulau Jawa. Transaksi ini terjadi pada awal tahun 2026 dengan nilai total sekitar Rp780 miliar, menandai upaya MPPA memperkuat jaringan Hypermart milik Lippo Group. Strategi ini diarahkan untuk memperluas kapasitas operasional dan memaksimalkan jangkauan pasar di segmen ritel modern.
MPPA memborong sejumlah bangunan dan gedung gerai yang sudah tidak terpakai, yang tersebar dari Balaraja di Tangerang hingga Malioboro di Yogyakarta. Langkah pembelian dilakukan lewat Perjanjian Pengikatan Jual Beli PPJB dengan beberapa penjual properti bersertifikat SHGB guna memastikan kepastian kepemilikan. Total nilai transaksi untuk pembelian enam properti ini mencapai Rp351,5 miliar pada beberapa transaksi besar.
Menurut keterangan Sekretaris Perusahaan, langkah ini diharapkan memberi dampak positif terhadap kegiatan usaha perseroan dan menambah nilai bagi pemegang saham. Dalam konteks pasar, ekspansi ini dinilai menjadi sinyal bahwa MPPA berupaya menjaga relevansi retail modern di era persaingan ketat sambil menimbang dinamika keuangan perusahaan. Analisis dari Cetro Trading Insight menilai inisiatif ini menempatkan MPPA pada jalur strategi jangka menengah meskipun menghadapi tantangan finansial.
Transaksi ini bersifat material mengingat posisi ekuitas MPPA pada akhir 2025 negatif Rp4 miliar, dan utang berbunga mencapai Rp960 miliar. Kondisi tersebut menambah tekanan pada arus kas dan biaya operasional perseroan. Secara keseluruhan, langkah ini meningkatkan beban finansial sambil membuka peluang bagi pertumbuhan jaringan ritel jika dikelola dengan efisien.
PPJB ditandatangani dengan sejumlah perusahaan penjual properti untuk lahan dan gedung di beberapa lokasi strategis. Transaksi terbesar terjadi dengan PT Citra Cito Perkasa untuk lahan di Surabaya senilai lebih dari Rp350 miliar, diikuti beberapa akuisisi lain di Yogyakarta, Bogor, Gresik, dan Bogor dengan nilai berkisar puluhan hingga ratusan miliar rupiah.
Karena ekuitas negatif dan utang yang tinggi, MPPA diperkirakan membutuhkan suntikan modal melalui rights issue atau private placement untuk membiayai transaksi dan mendanai operasional ke depan. Struktur pendanaan seperti ini menjadi kunci bagi kemampuan perseroan menjaga likuiditas sambil menjaga kesinambungan ekspansi.
Dari sisi sinyal trading, tidak ada sinyal spesifik untuk membeli atau menjual saham MPPA berdasarkan data yang tersedia. Analisis ini bersifat fundamental, menilai potensi pertumbuhan jangka menengah namun dengan risiko keuangan yang melekat. Keputusan investasi perlu mempertimbangkan kemampuan MPPA untuk membiayai ekspansi tanpa membebani arus kas jangka panjang.
Ekspansi ini berpotensi memperluas jaringan dan meningkatkan pendapatan jika manajemen mampu mengelola biaya properti dan tingkat okupansi secara efektif. Namun risiko utang dan ekuitas negatif menambah ketidakpastian bagi investor jangka pendek. Investor perlu memantau pembaruan terkait pendanaan dan prospek rights issue atau private placement yang dapat mempengaruhi harga saham.
Rekomendasi editorial dari Cetro Trading Insight menekankan pemantauan ketat terhadap rencana pendanaan dan perkembangan operasional MPPA. Sinyal perdagangan pada saat ini adalah no, dengan catatan bahwa perubahan kebijakan pendanaan bisa merubah lanskap risiko dan peluang bagi pemegang saham.