Sejumlah faktor makro global membentuk pergerakan pasangan mata uang NZD/USD. Pada pembukaan sesi Eropa Kamis, pasangan ini diperdagangkan mendekati level 0,5920, mencerminkan tekanan pada dolar Selandia Baru akibat dinamika pasar. Selain itu, eskalasi konflik di Timur Tengah menambah volatilitas di pasar mata uang dan menahan pembalikan ke arah positif bagi NZD.
Lonjakan harga minyak mentah memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Pasar menilai bahwa inflasi yang lebih tinggi akan mempertahankan posture hawkish dari Federal Reserve. Dampak langsungnya, nilai tukar NZD terhadap USD cenderung melemah ketika investor menilai risiko kebijakan moneter yang lebih ketat.
Di sisi lain, China menetapkan target pertumbuhan 2026 di kisaran 4,5–5 persen, sedikit lebih rendah dari ekspansi 5 persen tahun sebelumnya. Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030) diajukan untuk dibahas, menandai pergeseran menuju pertumbuhan berkualitas dan kemandirian teknologi. Memang, dampak langsungnya bagi proxy China terhadap NZD/USD bersifat campuran, karena fokus pada restrukturisasi industri bisa membatasi peluang bagi ekspansi komoditas dan valuta regional.
Harga minyak dan gas yang melonjak akibat konflik di Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Pasar menakar bahwa risiko inflasi akan menahan kelonggaran kebijakan moneter AS, sehingga USD dapat tetap kuat. Kondisi ini membuat NZDUSD berisiko menekan lebih lanjut jika risiko geopolitik tetap tinggi.
Klaim pekerjaan AS yang akan dirilis minggu ini menjadi fokus pelaku pasar. Data tersebut berperan memperhebat pandangan terkait arah kebijakan moneter federal. Dalam pandangan beberapa analis, kebijakan hawkish Fed telah diperkuat oleh meningkatnya tekanan harga energi.
Menurut Rabobank, pasar telah melihat perang Timur Tengah sebagai risiko inflasi, menambah volatilitas pair ini. Sementara itu, laporan rencana China menengah-langkah 2026-2030 memicu dinamika pada proxy NZD terhadap risiko ekonomi global. Laporan dari Cetro Trading Insight menunjukkan bahwa volatilitas bisa bertahan pada musim laporan data ekonomi utama, namun sentimen keseluruhan tetap berat pada sisi USD.