Rabu ini pasar Asia melesat dengan ritme yang lebih keras dari biasanya setelah Presiden AS menyatakan gencatan senjata dua pekan dengan Iran. Kabar ini membangkitkan harapan bahwa konflik regional dapat mereda tanpa eskalasi. Pelaku pasar merespon dengan pembelian saham dan penurunan volatilitas, didorong juga oleh menurunnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global.
Indeks saham dan obligasi pemerintah di wilayah Asia menguat di pembukaan perdagangan, didorong optimisme atas deeskalasi. Sinyal positif ini membantu meredam tekanan inflasi berbasis komoditas, terutama karena harga minyak turun tajam. Dampak ini meningkatkan prospek pertumbuhan ekonomi di negara-negara pengimpor energi yang sensitif terhadap perubahan harga energi.
Para analis menekankan bahwa real test adalah apakah kesepakatan ini akan bertahan lama atau hanya jeda sementara. Mereka menilai pergerakan harga saham dan obligasi lebih sebagai sinyal berkelanjutan atau penjajakan loyalitas investor terhadap risiko geopolitik. Cetro Trading Insight menyoroti bahwa jendela dua minggu ini perlu diikuti dengan komitmen diplomatik yang konsisten untuk menilai dampaknya jangka panjang.
Nikkei Jepang melonjak 5,04 persen, diikuti Kospi Korea Selatan yang naik 5,97 persen karena reli saham chip menjadi motor utama. S&P/ASX 200 Australia bertambah 2,58 persen, menandai momentum positif di pasar saham regional. Demikian juga Shanghai Composite naik 1,76 persen, Hang Seng Hong Kong 2,61 persen, dan STI Singapura 0,59 persen, menambah gambaran pemulihan luas di Asia.
Menurut laporan Dow Jones Newswires, penghentian serangan dua pekan dan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong sentimen positif di pasar. Pasokan minyak yang diharapkan kembali normal mengurangi tekanan pada harga dan, secara tidak langsung, menopang prospek pasar saham serta obligasi pemerintah yang menurun imbal hasilnya. Analis menilai kebijakan sementara ini bisa menstabilkan risk appetite jangka pendek.
Obligasi pemerintah Asia turun imbal hasilnya: Jepang turun 4,5 basis poin ke 2,360 persen, Australia turun 10 basis poin ke 4,888 persen, dan Selandia Baru turun 9 basis poin ke 4,633 persen. Pergerakan ini mencerminkan permintaan terhadap aset aman dan aliran modal yang mencari cuan lebih stabil di tengah ketidakpastian. Secara umum, mata uang Asia juga menguat terhadap dolar AS, meski beberapa mata uang kelas menengah menunjukkan volatilitas.
Analis Pepperstone Michael Brown menilai pasar telah lama menantikan kabar baik dan langkah konkret de eskalasi, sehingga wajar jika investor menambah eksposur risiko secara bertahap. Meski demikian, Brown menekankan bahwa momentum ini bisa rapuh jika konflik kembali memanas atau jika tenggat dua pekan tidak diteruskan dengan kesepakatan berkelanjutan. Investor perlu melihat sinyal lebih lanjut dari kebijakan energi dan kebijakan moneter untuk validasi tren.
Harga minyak pagi ini turun tajam; WTI turun sekitar 14 persen ke level 97,59 dolar per barel dan Brent turun sekitar 12,5 persen ke 95,65 dolar per barel. Penurunan itu mengurangi tekanan inflasi dan hambatan bagi pertumbuhan ekonomi global, menurut beberapa analis. Namun para pakar mengingatkan volatilitas minyak bisa kembali muncul jika ketegangan geopolitik kembali meningkat.
Dalam konteks risiko, beberapa analis menekankan bahwa kemenangan relatif ini bukan jaminan momentum berlanjut. Jendela dua minggu bukan penyelesaian permanen; kesepakatan yang lebih kokoh diperlukan untuk menjaga aliran modal dan menghindari pembalikan harga. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya memantau indikator likuiditas pasar, perkembangan geopolitik, dan dinamika permintaan minyak sebelum menyimpulkan arah jangka menengah.