Pasar Asia memulai pekan ini dalam pelukan tipis likuiditas, tertahan libur panjang Tahun Baru Imlek yang membuat volume perdagangan menipis. Dalam konteks global, kilau saham terlihat redup meski ada harapan ekonomi yang masih menguat, karena investor menahan diri menunggu arah baru. Cetro Trading Insight menilai momen ini sebagai fase konsolidasi yang bisa memunculkan kejutan ketika pasar kembali bergerak aktif.
Di antara indeks- indeks utama regional, lonjakan aktivitas tampak tertahan. Indeks Nikkei 225 turun 0,15% pada sesi pagi, TOPIX melemah 0,63%, Hang Seng turun 0,10%, sementara S&P/ASX 200 menguat 0,13%. Kondisi serupa terlihat di pasar China, Korea Selatan, Taiwan, dan AS yang sedang libur, sehingga pergerakan mata uang, komoditas, dan obligasi relatif datar.
Para analis menantikan rilis utama pada Jumat mendatang berupa survei manufaktur global dan data Produk Domestik Bruto AS untuk kuartal IV-2025. Konsensus yang dihimpun Reuters memperkirakan ekonomi AS tumbuh sekitar 3,0% secara tahunan, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya namun tetap menunjukkan fondasi yang solid bagi prospek global.
Pada saat investor menahan diri, pelaku pasar memantau sinyal dari ekonomi utama untuk eksekusi posisi. Data Jepang yang lebih lemah menambah beban terhadap mata uang negara itu, sementara dorongan fiskal di tempat lain berpotensi mengubah dinamika perdagangan. Dalam konteks ini, fokus juga tertuju pada bagaimana ekspektasi stimulus fiskal bisa menggeser arah risiko secara keseluruhan.
Sejumlah pejabat dan analis memperingatkan mengenai risiko koreksi di sektor teknologi yang sangat terhubung dengan permintaan global. Analisis internal kami menyoroti bahwa pergerakan saham memori dan tokoh teknologi besar menjadi kunci untuk menghindari overheat pada harga saham berkapitalisasi besar, terutama di Korea Selatan dan Taiwan.
Nick Ferres, Chief Investment Officer di Vantage Point, menekankan bahwa arus belanja modal di sektor memori bisa menjadi pemicu perubahan sentimen jika perusahaan-perusahaan besar menunda investasi. “Kami makin berhati-hati terhadap saham memori di Korea dan Taiwan setelah kinerja luar biasa dan re-rating yang tajam,” jelasnya, menandakan risiko volatilitas tetap tinggi saat pelaku pasar menilai prospek jangka menengah.
Di Eropa, kontrak berjangka EURO STOXX 50 cenderung datar, dengan DAX naik sekitar 0,2%, sementara Wall Street menunjukkan progres tipis melalui S&P 500 futures +0,2% dan Nasdaq Composite +0,1%. Musim laporan keuangan masih berjalan, dan perhatian tertuju pada Walmart untuk memberi gambaran tren belanja konsumen setelah data ritel Desember sebelumnya mengecewakan pasar.
Secara aset, fokus pasar beralih ke arah data makro dan sinyal dari pasar ritel global. Pasar internasional saat ini menantikan dinamika yang bisa memperkuat atau menahan tren kenaikan indeks global, sambil menimbang kemungkinan dampak terhadap berbagai kelas aset. Bagi pembaca Cetro Trading Insight, kunci utamanya adalah menjaga manajemen risiko dan memanfaatkan volatilitas dengan analisis yang terukur.
Untuk investor ritel, strategi praktis tetap berfokus pada diversifikasi portofolio dan pemahaman terhadap data ekonomi utama. Dengan likuiditas yang terjepit oleh libur nasional, langkah-langkah yang terukur dan diselaraskan dengan kalender rilis data menjadi strategi yang paling relevan dalam minggu ini.