NZD/USD terlihat menguat meski data PSI Layanan Selandia Baru menunjukkan perlambatan. PSI Januari turun menjadi 50.9 dari 51.7, menandakan perlambatan permintaan akibat libur dan dinamika musiman. Fenomena ini memberi ruang bagi dukungan harga jangka pendek sambil pasar menilai arah kebijakan moneter ke depan.
Hasil survei kebijakan moneter RBNZ memperlihatkan peningkatan ekspektasi inflasi pada horizon satu dan dua tahun untuk Q1 2026. Ekspektasi dua tahun naik menjadi 2.37% dari 2.28% kuartal sebelumnya, dan ekspektasi satu tahun melonjak ke 2.59% dari 2.39%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan inflasi akan memerlukan langkah kebijakan yang cermat meskipun belum ada sinyal perubahan segera.
Data CPI Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan inflasi yang mendukung pandangan pasar terhadap potensi pelonggaran kebijakan. CPI YoY Januari sebesar 2.4% dan pertumbuhan bulanan 0.2% keduanya berada di bawah estimasi analis. Hasil tersebut meningkatkan gagasan bahwa Federal Reserve mungkin menunda kenaikan suku bunga atau bahkan memangkas suku bunga pada beberapa periode mendatang, yang turut meletakkan tekanan terhadap dolar AS.
Faktor utama bagi pergerakan dolar adalah data inflasi yang lebih lemah. Indikator CPI Januari menunjukkan laju kenaikan 2.4% YoY dan 0.2% secara bulanan, keduanya di bawah estimasi pasar. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa Fed bisa menahan atau memangkas suku bunga lebih cepat, yang cenderung melemahkan dolar terhadap mata uang komoditas seperti NZD.
Komentar dari pejabat Federal Reserve, termasuk Presiden Chicago Fed Austan Goolsbee, menyiratkan bahwa penurunan suku bunga masih mungkin jika kemajuan mengendalikan inflasi jasa terus berlanjut. Goolsbee menekankan bahwa penurunan lebih lanjut akan tergantung pada kemajuan nyata dalam menekan tekanan biaya layanan. Pandangan ini mendukung ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter AS dapat menjadi lebih longgar tanpa mengorbankan stabilitas harga.
CME FedWatch menunjukkan hampir 90% probabilitas Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret, sementara harga pasar menilai kemungkinan dua pemotongan 25 basis poin hingga akhir tahun. Pasar menimbang rencana pemangkasan tersebut dengan probabilitas sekitar 52% untuk turun pada Juni. Secara keseluruhan, dinamika ini memperkuat narasi bahwa USD bisa melemah lebih lanjut jika data inflasi terus menuju target.
Secara fundamenta, pelemahan dolar AS dan ekspektasi pemangkasan suku bunga memberi ruang bagi NZDUSD untuk melanjutkan tren kenaikan. Kombinasi data inflasi AS yang lebih lemah dan ekspektasi kebijakan yang lebih longgar di AS meningkatkan daya tarik pasangan ini. Karena itu, para trader bisa memanfaatkan momen ini untuk mengambil posisi long pada NZDUSD dalam kerangka risiko yang terkelola.
Jika eksekusi berjalan sesuai rencana, target profit dapat dicapai dan perlu dilakukan evaluasi ulang posisi. Namun jika harga tersentuh stop loss, analisis ulang faktor fundamental dan teknikal diperlukan sebelum melanjutkan. Selalu disiplin pada ukuran posisi saat volatilitas pasar tetap tinggi dan hindari overtrading dalam situasi seperti ini.
Pastikan Anda memahami risiko, menjaga ukuran posisi yang proporsional, dan mengikuti rencana perdagangan secara konsisten. Analisis ini didasarkan pada laporan ekonomi terbaru serta opini para petinggi bank sentral, yang kami rangkum untuk Cetro Trading Insight.