
Analisis terbaru menunjukkan bahwa kerangka gencatan antara Amerika Serikat dan Iran akan secara bertahap membatasi aliran minyak melalui Selat Hormuz. Meski demikian, para analis dari Societe Generale menilai pemulihan fisik aliran tidak akan terjadi segera, sehingga pasar minyak dipandang tetap ketat pada fase ini. Perincian waktunya tersirat pada proyeksi jangka menengah, dengan dampak yang masih perlu menunggu kepastian politik.
Harga minyak dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan kendala logistik. Proyeksi harga berada di atas level 200 dolar per barel, didorong oleh pasar yang memandang risiko pasokan tetap tinggi. Kondisi backwardation juga diperkirakan bertahan hingga tahun 2027, menandai kurangnya pasokan simultan untuk memenuhi permintaan.
Sementara itu, pola inventori global dan dinamika permintaan end-user menambah tekanan. Output minyak di beberapa wilayah masih tertahan, sementara Asia diproyeksikan merasakan manfaat paling lambat dari normalisasi pasokan. Kombinasi faktor-faktor tersebut menjaga mekanisme pasar tetap rapuh dalam beberapa kuartal mendatang.
Dalam skenario jika MoU 60 hari berjalan sesuai rencana dan jalur Hormuz dapat diselesaikan dalam 30 hari, aliran fisik minyak diperkirakan mulai pulih pada Agustus 2026. Namun para analis memperingatkan bahwa end-user markets, terutama di Asia, baru mungkin merasakan pelepasan penuh pada akhir Oktober. Dengan asumsi tersebut, pasar diperkirakan tetap ketat melalui puncak musim panas.
Secara global, rantai pasokan bensin dan diesel menunjukkan kondisi yang tidak seimbang. Meskipun produsen berupaya meningkatkan kapasitas, stok bensin dan diesel secara luas diproyeksikan berada jauh di bawah rata-rata lima tahun hingga sisa tahun ini. Hal ini memperkuat struktur pasar produk yang rapuh dan volatilitas harga yang lebih tinggi.
Dalam skenario gangguan Hormuz yang berkepanjangan hingga akhir tahun, defisit sekitar 119 ribu barel per hari diperkirakan akan memicu penarikan besar sekitar 25,7 juta barel dari inventori Eropa. Akibatnya, stok di benua tersebut bisa turun menjadi sekitar 16,3 juta barel, yaitu kurang dari 10 hari cadangan. Kondisi seperti ini meningkatkan kerentanan sistem pasokan secara signifikan.
Konstelasi ini mengarahkan harga minyak ke posisi yang lebih tinggi secara berkelanjutan. Pasokan yang tetap tertahan dan permintaan yang belum pulih sepenuhnya menjaga tekanan pada kurva harga jangka menengah sampai panjang. Investor perlu fokus pada manajemen risiko dan diversifikasi portofolio energi untuk menghadapi volatilitas yang berkelanjutan.
Walau pasar menilai peluang jangka menengah positif, ketidakpastian geopolitik dan dinamika inventori global membuat sinyal trading menjadi sulit ditentukan. Analisis saat ini lebih menekankan pada pemantauan indikator fundamental seperti stok, laju produksi, dan kerangka kebijakan daripada sinyal spesifik untuk entri pasar jangka pendek.
Kesimpulannya, skema pasokan tetap rapuh dan potensi normalisasi pasokan yang tertunda mengartikan bahwa potensi tren naik masih ada, namun peluang entri yang jelas belum dapat ditentukan. Pembaruan data inventori dan pergeseran politik regional akan menjadi pendorong utama arah harga minyak ke depan.