Dolar AS menguat secara signifikan dalam beberapa hari terakhir, menekan GBPUSD. Pendorong utamanya berasal dari data ekonomi AS yang beragam, yang menguatkan proyeksi kebijakan moneter yang berimbang. Di samping itu, harga minyak yang pulih akibat dinamika di Iran serta risiko geopolitik terkait Venezuela dan Greenland turut memperkuat daya beli dolar.
Kekuatan dolar memicu tekanan pada pasangan GBPUSD karena investor menilai sterling rentan terhadap kejutan data AS dan kebijakan fiskal yang lebih ketat di negara asalnya. Pergerakan ini meningkatkan volatilitas jangka pendek dan menambah beban pada GBP.
Secara umum, kondisi fundamental saat ini menempatkan dolar dalam posisi lebih kuat, sehingga pembaruan prospek untuk GBP perlu dipantau dengan seksama sambil mempertimbangkan faktor pendukung di pasar komoditas dan risiko geopolitik.
Secara teknikal, harga GBPUSD telah kehilangan tekanan bullishnya dan menguji area support di sekitar 1.34262 sampai 1.34088 pada kerangka waktu H1.
Penembusan ke bawah area tersebut dapat dipicu pelemahan lanjutan jika momentum jual tetap kuat dan konfirmasi turun muncul. Sinyal teknikal saat ini menunjukkan bias bearish jangka pendek.
Level stop loss ditempatkan di atas area tersebut pada 1.34676, sementara target penurunan pertama berada di 1.33691, diikuti TP kedua 1.33176 dan TP ketiga 1.32669 jika tekanan jual berlanjut.
Rencana perdagangan yang diusulkan adalah masuk posisi SELL mendekati area 1.3430, dengan stop di 1.34676 dan target pertama 1.33691. Rasio risiko/imbalan diperkirakan sekitar 1.6:1.
Target bertahap memungkinkan trader mengunci sebagian keuntungan jika pasar bergerak sesuai ekspektasi, dengan TP kedua di 1.33176 dan TP ketiga di 1.32669.
Jika harga tidak menembus area support dan berbalik ke atas, disarankan untuk menilai ulang posisi, mengurangi risiko, atau keluar dari perdagangan guna membatasi kerugian sambil menunggu konfirmasi arah pasar yang lebih jelas.