Di tengah kobaran ketegangan geopolitik global, pasar saham Korea Selatan meluncur tajam dengan penurunan lebih dari 7% — babak volatilitas yang menguatkan kekhawatiran investor di Asia. Aksi jual besar-besaran muncul setelah laporan serangan udara AS dan Israel terhadap Iran, menunjukkan eskalasi yang berpotensi memicu gangguan rantai pasokan. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana dinamika geopolitik dapat langsung mengubah keputusan alokasi dana harian.
Indeks acuan KOSPI turun 7,24% ke level 5.791,91 poin sepanjang sesi perdagangan, meski otoritas bursa sempat menyalakan mekanisme sidecar untuk membatasi penurunan tajam. Pelemahan ini menandai penurunan harian terbesar sejak Agustus 2024, ketika KOSPI berakhir turun 8,77%. Para pelaku pasar menilai aksi jual ini sebagian dipicu oleh pelemahan sentimen risiko dan keluarnya arus modal asing.
Banyak saham berkapitalisasi besar terdampak, terutama produsen chip dan otomotif yang sebelumnya membangun reli didorong optimisme AI. Sektor lain seperti kilang minyak dan pelayaran menunjukkan pergerakan positif terbatas, sementara maskapai penerbangan masih dibebani tekanan biaya dan permintaan yang berfluktuasi. Secara umum, investor mendorong kehati-hatian sambil menilai dampak jangka pendek terhadap likuiditas pasar.
Di tengah suasana risk-off global, aliran modal asing keluar berlanjut dengan penjualan saham lokal mencapai sekitar 5 triliun won pada hari itu. Nilai tukar won melemah ke kisaran 1.465,6 per dolar AS pada penyelesaian domestik, menambah tekanan inflasi melalui kenaikan imbal hasil obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah juga melonjak, dengan imbal balik tenor 3 tahun berada di 3,135% dan 10 tahun di 3,509%.
Pergerakan harga minyak yang melonjak turut mendukung dinamika pasar: kilang minyak terkait naik, sementara sektor pelayaran menguat karena kenaikan biaya angkut. Namun kinerja maskapai penerbangan tertekan oleh biaya operasional lebih tinggi dan ketidakpastian permintaan. Sektor pertahanan juga mengalami tren positif karena permintaan terkait keamanan regional tetap tinggi.
Di sisi lain, data aktivitas pabrik Korea Selatan menunjukkan ekspansi untuk bulan ketiga berturut-turut, didorong lonjakan produksi dan ekspor chip yang melampaui ekspektasi. Investor menimbang kombinasi pertumbuhan sektoral dengan risiko geopolitik dan tekanan biaya yang lebih luas. Dalam analisis kami di Cetro Trading Insight, dinamika ini menggambarkan bahwa pergerakan jangka pendek sangat dipicu oleh berita global, sementara potensi fundamental bagi beberapa sektor tetap terjaga.