John Velis, macro strategist dari BNY, tetap pada proyeksi bahwa Fed akan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali di paruh kedua tahun ini meskipun ketegangan geopolitik dan tekanan harga produsen meningkat. Ia menilai bahwa dinamika pasar tenaga kerja AS yang melemah pada akhirnya akan mendorong kebijakan yang lebih longgar. Dengan demikian, kemiringan kurva imbal hasil bisa meningkat jika imbal hasil jangka pendek turun sementara imbal hasil jangka panjang naik.
Menurut Velis, pergerakan kurva imbal hasil pasar tidak berubah secara berarti sejak serangan dimulai, dengan dua pemotongan untuk tahun ini yang tetap menjadi patokan sementara minyak berada pada level lebih tinggi dan ekspektasi inflasi sedikit meningkat pada hari itu.
Velis menegaskan bahwa pandangan itu tidak terganggu oleh gejolak geopolitik saat ini. Ia berpendapat bahwa jika kebijakan pelonggaran diperlukan karena pelemahan tenaga kerja, FOMC akan menempuh jalur tersebut meski inflasi masih relatif tinggi. Secara umum, ia menggarisbawahi bahwa potensi pelonggaran lebih lanjut bisa membuat imbal hasil jangka panjang naik dan menambah kemiringan kurva.
Fokus Velis adalah tenaga kerja AS. Ia menilai pasar tenaga kerja saat ini relatif datar dan berpotensi memburuk, yang menjadi pendorong terhadap kebijakan moneter yang lebih dovish. Dalam konteks ini, pelonggaran kebijakan akan menjadi opsi jika kondisi tenaga kerja melemah lebih lanjut, meskipun inflasi juga perlu dipantau.
Inflasi terlihat tetap tinggi belakangan ini lewat data biaya produksi PPI, terutama karena jasa. Margin perusahaan didorong naik oleh tarif, sehingga subkategori PPI yang terkait jasa mengalami kenaikan signifikan sekitar 4,2 persen. Dampak dari dinamika ini adalah tantangan bagi ekspektasi pelonggaran, meskipun fokus kebijakan lebih besar pada tenaga kerja.
Jalur kebijakan akan menyesuaikan jika tenaga kerja memburuk lebih lanjut. Dalam skenario demikian, pelonggaran kebijakan bisa dilakukan meski inflasi masih bertahan. Efeknya bisa menekan imbal hasil jangka pendek namun berpotensi menaikkan imbal hasil jangka panjang, sehingga kurva imbal hasil menjadi lebih curam.
Secara umum, pasar belum mengubah harga secara signifikan terkait potensi tiga pemotongan suku bunga di H2, meski harga minyak lebih tinggi dan ekspektasi inflasi sedikit meningkat. Velis menyatakan bahwa pasar saat ini cenderung tidak mencerminkan skenario pelonggaran bila tenaga kerja memburuk.
Potensi kebijakan yang lebih longgar bisa menekan nilai dolar terhadap beberapa pasangan utama sambil memperkuat tekanan pada imbal hasil jangka panjang. Perubahan ekspektasi juga dapat meningkatkan volatilitas, yang memengaruhi aset berisiko dan obligasi.
Penutup: Artikel ini dibuat dengan bantuan alat AI dan telah direview oleh editor. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya memantau data tenaga kerja dan inflasi berikutnya untuk menilai peluang di pasar.