Fokus pasar saat ini tertuju pada potensi pemangkasan suku bunga Bank of England. Data tenaga kerja menunjukkan pengangguran naik menjadi 5,1 persen, sebuah indikator yang menambah tekanan bagi BoE untuk melonggarkan kebijakan pada tahun 2026. Langkah ini secara teoretis akan melemahkan pound terhadap mata uang utama lainnya.
Di sisi lain, sentimen pasar tetap sensitif terhadap keluarnya paket kebijakan moneter. Peluang pemangkasan suku bunga dapat menjadi katalis pelemahan bagi GBP jika ekspektasi pasar terkonfirmasi. Sementara itu, dinamika fundamental mempengaruhi arah jangka pendek meskipun ada pergerakan teknikal yang terbaca di grafik.
Prediksi untuk pasangan ini tetap menunjukkan bias bearish seiring faktor fundamental membayangi. Para pelaku pasar telah menyiapkan skenario jual dengan target berjenjang sesuai level penurunan harga. Dengan demikian, risiko turun lebih lanjut tetap besar bila data ekonomi tetap lemah.
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Area | 1.34926 ~ 1.34780 |
| Open | 1.34910 |
| TP1 | 1.34630 |
| TP2 | 1.34413 |
| TP3 | 1.34194 |
| SL | 1.35081 |
Secara teknikal, GBPUSD menunjukkan resistensi kuat di zona antara 1.34780 dan 1.34926 pada grafik 1 jam. Upaya kenaikan cenderung tertahan saat harga berdekatan dengan zona tersebut, menambah peluang pembalikan ke bawah. Kondisi ini mendukung penempatan posisi jual bagi trader yang siap mengikuti arah makro yang lemah bagi pound.
Pergerakan harga berisiko menembus ke atas hanya jika ada perubahan signifikan dalam ekspektasi kebijakan BoE atau data tenaga kerja membaik secara substansial. Namun, jika resistensi tetap berlaku, momentum turun bisa berlanjut menuju target downtrend. Analis memperhatikan konsolidasi sebagai tanda kesiapan untuk langkah teknikal selanjutnya.
Rencana manajemen risiko menekankan penggunaan stop loss di atas level 1.35081 sebagai batas kerugian, dengan target pertama di 1.34630 dan TP lanjutan di 1.34413 hingga 1.34194. Rasio risiko-imbalan dirancang sekitar minimal 1:1.5 untuk menjaga kelayakan strategi jangka pendek.