Lonjakan tajam saham WMUU pada sesi perdagangan Jumat menandai babak baru bagi perusahaan unggas terintegrasi di tanah air. Kenaikan mendekati 30 persen di sesi kedua pada 27 Februari 2026 menunjukkan kepercayaan investor terhadap strategi pertumbuhan yang memanfaatkan integrasi penuh dari pembibitan hingga pabrik pakan. Dalam catatan awal, Cetro Trading Insight mencermati dinamika ini sebagai sinyal bahwa efisiensi rantai nilai dan diversifikasi pendapatan bisa menopang kinerja jangka panjang. Momen ini juga menjadi ukuran bagaimana pasar merespons langkah operasional yang diberi bobot tinggi oleh manajemen perseroan.
Widodo Makmur Unggas (WMUU) tercatat sebagai emiten barang konsumen primer dengan fokus utama pada peternakan ayam dan perdagangan pakan ternak. Perusahaan ini menerapkan model operasional terintegrasi, terdiri dari pembibitan unggas, penetasan telur, peternakan ayam pedaging, ayam petelur, rumah potong ayam, dan pabrik pakan ternak. Struktur ini dirancang untuk memotong rantai nilai, menurunkan biaya logistik, dan meningkatkan kendali mutu pada setiap tahap produksi. Upaya integrasi semacam ini juga menyiapkan landasan untuk meningkatkan kapasitas produksi demi memenuhi permintaan nasional yang dinilai tetap kuat.
Sejak 2015 WMUU telah menapaki jalur ekspansi yang agresif. Pada 2017 perseroan mendirikan breeding farm di Gunung Kidul, Yogyakarta, lalu 2020 memperluas ke peternakan ayam broiler di Wonogiri, Jawa Tengah. Pada 2023, perusahaan meluncurkan telur bebas sangkar dan mengantongi sertifikat internasional Humane Animal Care. Langkah langkah ini menunjukkan fokus pada inovasi produk, kepatuhan terhadap standar kesejahteraan hewan, serta kemampuan untuk menghadapi fluktuasi harga bahan baku. Dengan basis operasional yang luas, WMUU mencoba menyeimbangkan antara efisiensi biaya dan kualitas produk.
Kepemilikan WMUU menunjukkan pengendali utama berada di PT Widodo Makmur Perkasa dengan kepemilikan sekitar 41,78 persen per Januari 2026. Struktur ini memberi kendali signifikan atas kebijakan modal, rencana ekspansi, serta arah kebijakan korporasi. Porsi saham publik mencapai 50,68 persen dan mencerminkan keseimbangan antara pemegang saham institusi dan publik dalam menjaga tata kelola perusahaan. Data ini berasal dari laporan bulanan registrasi pemegang efek yang dilaporkan ke Bursa Efek Indonesia.
Di bawah kendali utama terdapat PT Pendanaan Efek Indonesia dengan kepemilikan 7,52 persen, menempatkan mereka sebagai pemangku kepentingan penting kedua. Adapun penerima manfaat akhir, Tumiyana, menjabat sebagai komisaris utama yang juga memegang peran eksekutif. Informasi ini mencerminkan bagaimana kepemilikan dan manajemen saling terkait dalam menentukan arah strategi perusahaan.
Sejarah listing WMUU di bursa menambah konteks tata kelola. IPO pada 2021 melepas 1,94 miliar saham pada harga Rp180 per saham, mengumpulkan dana sekitar Rp349 miliar. Dana tersebut menjadi modal untuk membangun fasilitas baru, modernisasi produksi, serta meningkatkan kapasitas produksi seiring dengan rencana ekspansi. Informasi ini juga berfungsi bagi investor sebagai gambaran sumber daya yang tersedia untuk masa depan perseroan.
Sejak awal 2026, harga WMUU menunjukkan tren positif yang signifikan. Secara year to date, saham ini melonjak sekitar 50 persen, mencerminkan respons pasar terhadap potensi pendapatan dari lini bisnis terintegrasi dan program MBG pemerintah. Pada 27 Februari 2026, kisaran harga berada di Rp99-Rp100 per saham, menunjukkan dinamika permintaan yang kuat di pasar modal domestik. Hal ini menambah konteks bagi investor mengenai arah kinerja ke depan dan stabilitas pasokan produk.
Fasilitas rumah potong ayam WMUU memiliki kapasitas produksi hingga 12.000 ekor per jam, didukung teknologi mutakhir dan standar biosecurity yang tinggi. Peningkatan kapasitas ini sejalan dengan permintaan protein hewani yang tumbuh di dalam negeri dan dukungan program pemerintah untuk menjaga ketersediaan pangan. Upaya peningkatan efisiensi operasional ini juga diharapkan menekan biaya per unit dan memperkuat daya saing produk perseroan.
Selain itu WMUU mengambil langkah strategis dengan mendatangkan grandparent stock dari Amerika Serikat pada akhir 2025 untuk menjaga kestabilan produksi. Kebijakan ini diperkirakan mempercepat regenerasi genetika ternak, mengurangi risiko gangguan pasokan, dan mendukung program Makan Bergizi Gratis MBG pemerintah. Perusahaan juga memperluas jaringan operasionalnya ke 21 provinsi, memanfaatkan fasilitas peternakan yang tersebar luas untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional.