Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengungkapkan keinginan untuk menunda penerapan pajak makanan sebesar 8% selama dua tahun, dengan niat mengajukan rancangan undang-undang terkait dalam Diet fiskal 2026. Langkah ini dilatarbelakangi upaya meringankan beban harga bagi rumah tangga dan mendukung sektor ritel pangan. Politisi tersebut menekankan bahwa langkah fiskal ini perlu didasarkan pada kajian ekonomi yang konsisten dengan sasaran jangka menengah negara.
Di sisi komunikasi publik, Takaichi menegaskan bahwa dirinya tidak akan membahas dinamika pasar secara terbuka. Namun ia menjanjikan pemantauan ketat terhadap pergerakan spekulatif dan respons yang tepat bila diperlukan. Pernyataan ini menunjukkan sikap pemerintah yang berhati-hati terhadap potensi volatilitas pasar terkait kebijakan tersebut.
Sehubungan dengan pendanaan, ia menegaskan bahwa menggabungkan aset negara seperti dana kekayaan nasional, kepemilikan ETF Bank of Japan, dana pensiun, dan cadangan valuta asing tidak realistis. Ia juga menyoroti risiko tinggi terkait keselamatan likuiditas yang diperlukan untuk mencapai sasaran aset pemerintah tersebut. Oleh karena itu, opsi pembiayaan yang lebih aman dan andal sedang dipertimbangkan oleh pembuat kebijakan.
Reaksi pasar terhadap berita ini terlihat pada pergerakan USD/JPY, dengan pasangan tersebut berada di sekitar 154,05 pada perdagangan hari ini, turun sekitar 1,14 persen. Fluktuasi ini mencerminkan kekhawatiran investor terkait dampak kebijakan fiskal terhadap dinamika moneter serta prospek yen di tengah iklim global yang berubah. Pasar juga mencermati bagaimana potongan pajak makanan dapat menekan tekanan inflasi domestik.
Analis menilai bahwa pengurangan beban harga makanan bisa memperlambat laju inflasi inti dan mempengaruhi ekspektasi kebijakan Bank of Japan. Jika inflasi relatif menurun, BOJ mungkin menahan laju normalisasi kebijakan, yang pada gilirannya bisa memberikan dukungan bagi yen melalui pergeseran suku bunga relatif. Namun, dampak akhir sangat tergantung pada keseimbangan kebijakan lain dengan data ekonomi yang berkembang.
Pujukan pemerintah untuk menjaga komunikasi fiskal yang stabil menambah spekulasi di pasar mengenai timing dan ukuran bantuan fiskal. Sementara itu, investor tetap waspada terhadap sinyal kebijakan yang berpotensi berubah seiring perkembangan ekonomi. Reaksi pasar yang beragam menandakan bahwa perubahan kebijakan fiskal bisa memicu volatilitas jangka pendek.
Pemerintah telah meninjau berbagai opsi pembiayaan untuk program pembebasan pajak makanan. Opsi ini meliputi kombinasi pendanaan internal, alokasi anggaran, dan mekanisme pembiayaan jangka menengah, yang semuanya bertujuan menjaga kelangsungan program tanpa membebani fiskal jangka panjang. Namun, pilihan pendanaan ini juga membawa tantangan terkait stabilitas fiskal serta keamanan likuiditas.
Para pembuat kebijakan menegaskan bahwa gagasan membentuk dana kekayaan negara sebagai wadah gabungan kepemilikan ETF, dana pensiun, dan cadangan mata uang tidak realistis. Risiko utama terkait likuiditas, diversifikasi aset, dan potensi tekanan pada neraca nasional tetap menjadi faktor perhitungan penting. Pemerintah perlu menilai secara cermat proyeksi arus kas dan dampak terhadap stabilitas keuangan.
Secara umum, pasar akan menunggu konfirmasi lebih lanjut mengenai jadwal dan rincian program. Walaupun pimpinan menegaskan bahwa komentar tentang pasar tidak mereka keluarkan, sikap responsif terhadap pergerakan spekulatif diharapkan tetap ada. Investor disarankan memantau pembaruan kebijakan dan fakta terkait pendanaan untuk menilai risiko dan peluang yang muncul.