Data perdagangan China untuk Januari–Februari 2026 menunjukkan dorongan jelas bagi pertumbuhan ekonomi. Ekonom UOB, Ho Woei Chen, menyoroti bahwa ekspor dan impor meningkat tajam meskipun dinamika global tetap beragam. Peralihan fokus dari pasar AS ke ASEAN, Uni Eropa, dan mitra regional menandai arus perdagangan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Dalam ukuran USD, ekspor naik 21.8% secara tahunan, melampaui proyeksi Bloomberg sebesar 7.2% dan laju Desember sebesar 6.6%. Sementara itu, impor naik 19.8% y/y, lebih tinggi dari ekspektasi Bloomberg 7.0% dan juga dibanding Desember 5.7%. Keamanan perdagangan tercermin pada surplus perdagangan mencapai US$213.62 miliar dalam Januari–Februari, meskipun rata-rata dua bulan lebih rendah dari Desember karena lonjakan impor.
Secara umum, data ini menandakan permintaan eksternal tetap menjadi pilar utama pertumbuhan China pada dua bulan pertama. China juga terus menggeser poros ekspor ke pasar non-AS, menjaga momentum meskipan risiko global meningkat. Volume pembelian komoditas seperti bijih tembaga, bijih besi, batubara, minyak mentah, dan produk minyak olahan meningkat, menunjukkan persediaan yang dibangun sebagai respons terhadap gejolak geopolitik di Timur Tengah.
Permintaan luar negeri China tetap menjadi pendorong utama, dengan data Januari–Februari menunjukkan pergeseran fokus ke pasar non-AS. Hal ini memperkuat posisi China sebagai mitra dagang utama bagi berbagai wilayah, termasuk ASEAN dan Eropa, di saat volatilitas di pasar utama mereda. Arus perdagangan yang luas membantu menahan dampak turunnya permintaan dari beberapa negara maju.
Surplus perdagangan yang besar pada dua bulan pertama mempertegas pijakan eksternal sebagai penyangga pertumbuhan. Pembenahan inventaris dan pembelian komoditas berharga memperkuat basis produksi sekaligus menambah kapasitas stok untuk menghadapi ketidakpastian materi energi dan logam. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi risiko, tetapi tidak menghalangi dinamika impor yang tetap meningkat.
Secara khusus, volume pembelian untuk logam seperti tembaga dan bijih besi, serta produk energi seperti batu bara dan minyak, menunjukkan tren penguatan. Bantuan dari lonjakan permintaan global ini mendorong peningkatan aktivitas tambang dan pemrosesan di berbagai wilayah. Meski demikian, para pelaku pasar tetap memperhatikan jalur pasokan dan biaya transportasi yang bisa berubah seiring perkembangan konflik regional.
Para analis memperkirakan bahwa 2026 akan menghadirkan pertumbuhan positif bagi China dengan ekspor tumbuh sekitar 2.8% dan impor sekitar 2.0%. Angka ini mencerminkan transisi ke pertumbuhan yang lebih seimbang setelah dorongan kuat pada 2025. Para pembuat kebijakan berharap dinamika permintaan global yang lebih luas akan menjaga arus perdagangan tetap kuat.
Peran diversifikasi pasar menjadi semakin penting, karena permintaan dari ASEAN, Uni Eropa, dan mitra regional lainnya memperkuat ketahanan eksternal China. Proyeksi ini juga menggarisbawahi pentingnya menjaga rantai pasokan dan menjaga persediaan yang cukup untuk menghadapi potensi gangguan pasokan energi serta kolaborasi sumber daya industri. Dengan basis data yang mendasari, prospek jangka menengah tetap menjanjikan meskipun ada risiko geopolitik.
Investor global perlu memantau pergerakan harga komoditas dan dinamika kebijakan ekonomi. Meskipun terdapat ketidakpastian, sinyal fundamental menunjukkan bahwa dinamika perdagangan China masih menjadi pendorong utama pada pertumbuhan global dan dapat mempengaruhi pasar mata uang serta harga energi dan logam di periode mendatang.