Analisis BNP Paribas menunjukkan bahwa permintaan yang lebih lemah di eurozone dibandingkan dengan level pada 2022 telah membantu membatasi laju inflasi. Kendala permintaan telah mendominasi sejak pertengahan 2024, sehingga inflasi cenderung bergerak menuju sasaran 2 persen yang ditetapkan ECB.
Pakar menilai bahwa meskipun tekanan dari sisi penawaran telah menurun secara historis, tekanan dari sisi permintaan tetap menjadi pendorong utama. Kondisi ini memperkuat arah inflasi tanpa memunculkan kejatuhan drastis pada harga konsumen.
Berbeda dengan dinamika di Amerika Serikat, eurozone menunjukkan dampak permintaan yang lebih dominan terhadap perilaku inflasi. Tren ini membuat inflasi mendekati target meski belum turun di bawah 2 persen karena kendala pasokan masih berada di atas rata-rata historis.
Shocks energi dan kenaikan biaya input bisa menambah tekanan pada inflasi inti jika permintaan tidak tumbuh signifikan. BNP Paribas menilai biaya produksi yang lebih tinggi dapat mendorong harga barang dan jasa meski permintaan relatif stagnan.
Indikator harmonised inflation naik 0,6 poin persentase menjadi 2,5 persen YoY pada Maret, sebagian besar karena kenaikan harga bahan bakar. Lonjakan ini menyoroti bahwa tekanan pada biaya input tetap relevan meski permintaan lemah.
Sementara kendala pasokan secara umum menunjukkan tren mereda, tingkat kendala terhadap rata-rata historis masih cukup tinggi. Dalam konteks ini, volatilitas harga energi dan dinamika input bisa menopang risiko inflasi ke depan.
Gejolak geopolitik, seperti potensi gangguan akibat konflik Iran, dapat memperburuk biaya input dan menambah kendala pasokan. Hal ini meningkatkan risiko terhadap kestabilan harga jika kejutan eksternal terus berlanjut.
Sejak pertengahan 2024, permintaan yang lemah telah menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika inflasi, lebih kuat dibandingkan sisi penawaran. Kondisi ini menambah tantangan bagi ECB dalam menjaga inflasi kembali ke target tanpa memperlambat pertumbuhan.
Artikel ini disusun untuk pembaca umum namun tetap merujuk pada analisis BNP Paribas dan laporan pasar. Dikutip oleh Cetro Trading Insight, analisis ini menyoroti bahwa inflasi di eurozone tetap rapuh dengan risiko gejolak di masa depan.