Selamat datang pada analisis komprehensif kinerja PJAA pada 2025. Laba bersih perusahaan mengalami kenaikan tipis meski pendapatan turun, menandai dinamika profitabilitas yang dipicu oleh faktor non-operasional dan efisiensi biaya. Menurut Cetro Trading Insight, momentum laba ini bisa menimbulkan minat investor meski ada risiko berkelanjutan pada operasional.
Pada tahun 2025, PJAA membukukan pendapatan Rp1,1 triliun, turun 11% year-on-year dari Rp1,27 triliun pada 2024. Laba kotor turun 23% menjadi Rp512 miliar seiring penurunan pendapatan, dan beban pokok pendapatan naik tipis 1,7% menjadi Rp610 miliar. Kondisi ini menunjukkan tekanan margin yang berasal dari dinamika pasar rekreasi dan properti.
Di sisi lain, laba bersih PJAA mencapai Rp180 miliar, sedikit lebih tinggi dari Rp178 miliar pada 2024, berkat penurunan beban keuangan hingga 25% menjadi Rp72 miliar serta adanya kontribusi pendapatan lain. Penghasilan luar biasa sebesar Rp225 miliar, sebagian besar berasal dari kompensasi ganti rugi tol, membantu menahan tekanan laba operasional. Secara keseluruhan, kinerja ini menunjukkan adanya faktor non-operasional yang mampu menjaga bottom line meski penurunan pendapatan berlangsung.
Kompensasi ganti rugi terkait proyek jalan tol Ir Wiyoto Wiyono Seksi Harbour Road II (HBR II) sebesar Rp176 miliar menjadi pendorong utama pendapatan lain PJAA. Dana tersebut merupakan bagian dari negosiasi pengadaan tanah untuk pengembangan jalan tol yang berdampak pada delapan kelurahan di Jakarta Utara, termasuk Ancol dan Pademangan.
Pembayaran tunai kompensasi ini telah cair pada 5 Januari 2026, meskipun dalam laporan keuangan 2025 pembayaran tersebut masuk sebagai piutang usaha. Keputusan gubernur terkait lokasi pembangunan dan kepastian proyek memberikan konteks hukum atas adanya kompensasi, yang pada akhirnya memengaruhi arus kas perusahaan.
Secara akuntansi, satu kali kompensasi ganti rugi menjadi faktor penting dalam lingkup pendapatan non-operasional PJAA. Meski demikian, ketergantungan pada sumber pendapatan non-operasional menuntut perhatian investor terhadap kemampuan perusahaan menjaga kinerja operasional di masa mendatang. Cetro Trading Insight menekankan perlunya memantau aliran kas dari proyek jalan tol dan potensi realisasi laba jangka panjang.
Secara operasional, kinerja PJAA masih berada di bawah tekanan, terutama karena penurunan jumlah kunjungan di beberapa unit rekreasi utama. Kondisi pasar yang belum pulih sepenuhnya serta persaingan ketat di Jabodetabek menjadi faktor penekan laba usaha dan arus kas.
Di sisi biaya, beban tetap seperti biaya pemeliharaan, utilitas, dan life cycle cost wahana terus naik seiring usia aset. Depresiasi aset juga berpotensi memberikan tekanan berkelanjutan pada bottom line meski pendapatan jangka pendek terlihat stabil berkat kompensasi. Investor perlu mengkaji penggunaan modal dan rencana restrukturisasi biaya untuk menjaga margin.
Secara umum, prospek PJAA memiliki dua sisi: potensi rebound dari segmen rekreasi jika pasar pulih dan risiko tekanan biaya jangka panjang. Analisis Cetro Trading Insight merekomendasikan kehati-hatian dalam mengambil posisi trading karena ketergantungan pada satu-off compensation dan dinamika proyek tol yang memerlukan evaluasi kontinu terhadap RKAP dan strategi baku perusahaan.