
Menurut Bob Savage dari BNY Mellon, aktivitas manufaktur Australia melambat meski PMI Mei tetap di zona ekspansi dengan 50,7 poin; angka tersebut turun dari 51,3 poin pada April. Indikator ini menyingkap adanya pergeseran ke arah pelemahan pada permintaan baru dan pesanan ekspor. Di sisi biaya, tekanan biaya tetap tinggi meskipan aktivitas tidak jatuh ke kontraksi.
Tekanan inflasi tetap tinggi bagi pelaku industri, dengan biaya input naik pada laju kedua tercepat dalam hampir empat tahun. Laju kenaikan biaya ini memperluas tekanan pada margin produsen dan menambah beban pada harga jual. Sementara itu, inflasi harga output juga meningkat, mencapai level tertinggi sejak Agustus 2022, memerlihatkan adanya momentum kenaikan harga yang berakar dari sisi produksi.
Indeks inflasi Melbourne melemah pada Mei karena faktor biaya bahan bakar, sementara nilai rumah nasional datar. Pasar perumahan di Sydney dan Melbourne menunjukkan penurunan, mempertegas dinamika pelambatan sektor properti. Kondisi harga rumah yang lemah menambah kehati-hatian konsumen dan memperkuat tekanan terhadap momentum pertumbuhan domestic.
Tekanan inflasi tetap tinggi dan tidak banyak mereda bagi pelaku manufaktur, dengan biaya input naik pada laju kedua tercepat dalam hampir empat tahun. Laju tersebut berdampak pada margin keuntungan produsen, yang tertekan oleh biaya produksi yang lebih tinggi. Selain itu, laju inflasi harga produksi juga meningkat, menandakan bahwa tekanan harga akan bertahan dalam beberapa kuartal ke depan.
Melbourne Institute menunjukkan dinamika harga yang berubah, dengan indikator inflasi bulanan Mei menunjukkan penurunan terkait faktor bahan bakar; namun, itu tidak berarti tekanan biaya mereda secara umum. Nilai rumah yang lesu dan momentum pasar perumahan yang melemah turut menambah kekhawatiran mengenai siklus fiskal dan permintaan rumah tangga. Secara umum, data ini menambah argumen bagi kebijakan moneter yang lebih berhati-hati.
Pasar telah menilai bahwa hanya satu kenaikan suku bunga tambahan yang mungkin terjadi untuk sisa tahun ini, sehingga sinyal pasar tampak berhati-hati. Ketidakpastian mengenai laju pemulihan ekonomi Australia memperkuat strategi kebijakan moneter yang lebih kalem. Dalam konteks investasi, status ekonomi makro menjadi faktor penentu arah mata uang dan aset berisiko di ruang global.
Pasar keuangan menunjukkan kehati-hatian terhadap pengetatan kebijakan RBA, mengingat data aktivitas manufaktur yang tetap lemah dan tekanan biaya yang tinggi. Ada juga pandangan bahwa jeda lebih lanjut lebih mungkin daripada pengetatan besar pada bulan-bulan mendatang. Hambatan valuta asing terkait suku bunga dan ekspektasi inflasi menambah volatilitas jangka pendek di AUD.
Di tengah sentimen konsumen yang moderat dan momentum perumahan yang melambat, bank sentral dihadapkan pada dilema menyeimbangkan potensi penurunan inflasi dengan perlambatan ekonomi. Banyak analis memperkirakan bahwa pasar hanya mengharapkan satu kenaikan lagi untuk sisa tahun ini, meski risiko eksternal tetap ada. Kebijakan yang lebih hati-hati juga dapat menjaga stabilitas mata uang dan mendukung pembiayaan rumah tangga.
Dari sisi trading, saat ini tidak ada sinyal teknikal atau fundamental yang kuat untuk posisi beli atau jual pada AUD berdasarkan berita ini. Jika Anda mempertimbangkan perdagangan jangka pendek, fokus pada reaksi terhadap rilis data selanjutnya dan pandangan pasar terhadap suku bunga jangka menengah dapat lebih relevan. Risiko terhadap reward dalam strategi trading saat ini sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap RBA.