
Pembayaran QRIS lintas negara mencetak momentum menakjubkan ketika ALTO Network melaporkan pertumbuhan transaksi cross-border sebesar 28% secara tahunan pada kuartal pertama tahun 2026. Data tersebut menunjukkan adanya pergeseran perilaku pembayaran di kalangan pelaku bisnis dan konsumen yang mulai terbiasa dengan opsi lintas negara. Di Cetro Trading Insight, kami menilai perkembangan ini sebagai sinyal penting bagi lanskap pembayaran digital yang terus tumbuh.
Hingga saat ini, QRIS cross-border masih berada dalam fase pengembangan, namun pertumbuhan yang tercatat di jaringan ALTO Network memperlihatkan adanya minat nyata untuk memanfaatkan fasilitas tersebut. Peningkatan ini menunjukkan bahwa ekosistem pembayaran lintas negara mulai mendapatkan daya tarik publik Indonesia meski tidak sebanding dengan volume transaksi nasional.
ALTO Network juga memperluas kemitraan dengan menambah tiga negara mitra, Jepang, China, dan Korea Selatan, setelah Bank Indonesia menandatangani kesepakatan dengan pemerintah masing-masing negara. Langkah ini menegaskan arah kebijakan yang memadukan dukungan otoritas dengan inisiatif infrastruktur pembayaran lintas negara dan menjadi topik hangat bagi pembaca Cetro Trading Insight.
Para eksekutif ALTO Network mengemukakan beberapa faktor yang membuat adopsi QRIS cross-border belum masif. Salah satunya adalah kenyataan bahwa banyak pelancong tetap menukarkan uang sebelum bepergian karena perbedaan kurs dan kebutuhan likuiditas, meski opsi pembayaran digital telah tersedia.
Alasan kedua adalah edukasi yang belum optimal bagi pedagang di negara mitra maupun pembeli Indonesia. Karena produk ini masih relatif baru, kedua belah pihak belum sepenuhnya yakin bahwa QRIS cross-border akan diterima secara luas di merchant yang dikunjungi.
Alasan ketiga adalah keamanan. Kerja sama pembayaran lintas negara melibatkan sejumlah regulasi dan sistem yang berbeda di tiap negara. Perbedaan settlement seperti H+1 atau H+2 membuat proses menjadi lebih kompleks, sehingga perusahaan perlu menjelaskan kemudahan dan keandalan produk ini secara lebih luas.
Bagi konsumen seperti wisatawan dan pekerja migran digital, QRIS cross-border berpotensi menggantikan sebagian besar pembayaran tunai dan konversi mata uang yang mahal jika berhasil dipandang sebagai solusi yang andal dan mudah digunakan.
Di sisi pedagang, penyederhanaan settlement dan penerimaan di merchant mitra akan menjadi fokus utama. Meskipun saat ini mekanisme settlement masih bervariasi, produk ini bertujuan untuk menghadirkan pengalaman pembayaran yang simpel dan transparan bagi pelanggan internasional maupun lokal.
Analisa kami pada Cetro Trading Insight menilai bahwa potensi QRIS cross-border bisa meningkatkan likuiditas pembayaran digital di Asia Tenggara jika ekosistemnya mampu menyeimbangkan keamanan, edukasi, dan kemudahan penggunaan. Ke depan, kolaborasi antara regulator, penyelenggara pembayaran, dan merchant sangat krusial untuk mendorong adopsi yang berkelanjutan.