RAAM Absen Dividen 2025, Setujui Rights Issue 20% dan Perubahan Susunan Pengurus

RAAM Absen Dividen 2025, Setujui Rights Issue 20% dan Perubahan Susunan Pengurus

trading sekarang

Di pasar yang dinamis, RAAM mencatat rugi bersih Rp34 miliar untuk tahun buku 2025, sebuah angka yang langsung menarik perhatian investor. Nilai kerugian tersebut membuat perusahaan memutuskan untuk tidak membagikan dividen kepada pemegang saham. Keputusan ini disahkan dalam RUPST dan RUPSLB yang berlangsung pada 7 Mei 2026, menandai fase restrukturisasi keuangan yang sedang dijalankan.

Selain itu, para pemegang saham menyetujui aksi korporasi berupa rights issue untuk menambah modal perusahaan. Proses ini akan menerbitkan 1.362.724.000 saham baru, setara sekitar 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor saat ini. Langkah ini dirancang untuk memperkuat keseimbangan modal dan mendukung rencana investasi, meski berpotensi menyebabkan dilusi bagi pemegang saham lama.

Secara kinerja, perseroan berhasil memangkas rugi pada 2025 dari Rp178,77 miliar menjadi Rp34 miliar, meski pendapatan turun 21 persen menjadi Rp180,96 miliar. Laba operasional, bagaimanapun, terdongkrak sangat solid hingga 394,9 persen menjadi Rp98,90 miliar dari Rp19,98 miliar. Analisis dari Cetro Trading Insight menunjukkan bahwa peningkatan efisiensi biaya dan margin operasional menjadi penggerak utama meski ukuran penjualan turun.

RUPST dan RUPSLB juga menyetujui aksi korporasi berupa rights issue untuk menambah modal perusahaan. Proses ini akan menerbitkan saham baru sebanyak 1.362.724.000 lembar, setara sekitar 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan. Langkah ini diharapkan meningkatkan likuiditas dan kemampuan pendanaan perusahaan untuk menghadapi masa depan.

Nilai dana yang diperoleh diproyeksikan akan dipakai untuk menjaga operasional serta mendorong ekspansi di lini usaha, meski ada risiko dilusi bagi pemegang saham lama. Investor perlu memantau bagaimana aliran dana dialokasikan dan dampaknya terhadap kinerja jangka panjang perseroan. Secara umum, aksi pembiayaan ini dipandang wajar sebagai bagian dari strategi menjaga arus kas di industri hiburan yang kompetitif.

Penilaian pasar terhadap keputusan ini akan bergantung pada rancangan penggunaan dana serta rencana investasi yang menyokong pertumbuhan pendapatan. Cetro Trading Insight menilai rights issue sebagai langkah realistis jika diiringi rencana yang jelas dan prospek pendapatan yang lebih kuat di masa depan. Selain itu, investor akan mengamati bagaimana manajemen mengharmonisasi struktur modal dengan kebutuhan operasional jangka menengah.

RUPST juga menyetujui perubahan susunan pengurus perseroan, termasuk pengunduran diri direktur utama Ario Bayu Wicaksono dan komisaris independen Gita Rusmida Sjahrir. Para pemegang saham menyampaikan penghargaan atas kontribusi mereka sepanjang masa jabatan. Langkah ini mencerminkan dinamika tata kelola perusahaan yang sedang disesuaikan dengan aspirasi pemegang saham.

Penggantinya adalah Karishma Raam Punjabi sebagai komisaris dan Nengah Rama Gautama sebagai komisaris independen untuk masa jabatan 2026–2031. Perubahan ini menandai upaya penyegaran governance untuk memperkuat arah strategis di sektor hiburan. Keduanya diharapkan membawa wawasan industri serta visi pertumbuhan yang sejalan dengan fokus perusahaan.

Sejalan dengan kinerja keuangan meski terkadang berfluktuasi, RAAM tetap menilai manajemen baru mampu menjaga momentum ekspansi sambil menjaga kepatuhan terhadap prinsip tata kelola. Laporan keuangan menunjukkan kemajuan pada laba operasional, sehingga pemegang saham perlu menyimak bagaimana rencana asing modal akan berdampak pada arus kas dan nilai perusahaan. Menurut analisis dari Cetro Trading Insight, penyegaran manajemen bisa mempercepat realisasi strategi jika didukung eksekusi yang jelas dan transparan.

banner footer