
Analisis oleh TD Securities, Prashant Newnaha dan Howard Du menjelaskan bahwa data ekonomi Australia belakangan melemah. Mereka juga menyoroti perubahan pajak dalam Anggaran Federal yang berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit. Karena faktor-faktor ini, mereka memperkirakan RBA akan mempertahankan cash rate di 4,35% pada pertemuan minggu depan. Meski demikian, mereka menekankan bahwa jalur kebijakan masih bergantung pada bagaimana data berikutnya berkembang.
Meskipun trimmed mean inflation masih menunjukkan tekanan harga, output gap perlahan mendekati keseimbangan jangka panjang. Para analis berpendapat pemotongan suku bunga terlalu dini mengingat tekanan inflasi masih tinggi. Namun, keyakinan mengenai kenaikan pada Agustus kian berkurang karena dinamika inflasi dan kapasitas ekonomi. Mereka menilai sinyal pelemahan jangka menengah bisa mengendurkan dorongan untuk peningkatan segera.
Mengaitkan data output gap dengan pasar, para analis menyebut bahwa jika Bank Sentral menjaga kebijakan terlalu lama, risiko bagi nilai tukar AUD bisa meningkat jika pasar menilai kebijakan dovish. Mereka juga menyoroti bahwa meskipun model RBA tidak mengarah ke resesi, tekanan inflasi trimmed mean bisa menjaga pembahasan pemangkasan suku bunga tetap prematur. Pada akhirnya, para analis akan menilai data CPI Mei sebagai konfirmasi apakah ada ruang untuk satu kenaikan lagi atau RBA akan menahan untuk periode yang lebih panjang.
Perubahan pada skema negative gearing dan tarif pajak capital gains dalam Anggaran Federal diperkirakan akan memperlambat pertumbuhan kredit secara material. Pengetatan kredit seperti itu bisa mempengaruhi permintaan rumah dan investasi properti secara luas. Para pelaku pasar juga mempertanyakan bagaimana lembaga keuangan akan menyesuaikan persyaratan pinjaman di tengah perubahan fiskal.
Dalam konteks ini, para analis tidak melihat bukti bahwa RBA perlu menaikkan suku bunga dengan segera untuk menanggapi dinamika fiskal saat ini. Meskipun data fiskal dapat menahan laju kredit, tekanan inflasi inti tetap ada dan menjaga keteguhan kebijakan moneter. Secara lengkap, pandangan mereka adalah bahwa kebijakan saat ini lebih menekankan keberlanjutan daripada langkah agresif.
Pesan pasar kemungkinan diremehkan sebagai dovish jika Bank Sentral menyiratkan periode hold yang lebih panjang. Hal ini menambah tantangan bagi investor yang menimbang arah AUD dan aset berisiko lainnya. Investor disarankan mengikuti perkembangan data fiskal dan inflasi karena signalnya bisa mengubah persepsi risiko secara signifikan.
Laporan NAB tentang utilisasi kapasitas menunjukkan tren penurunan mendekati rata-rata jangka panjang, mengisyaratkan penutupan output gap positif. Kondisi ini menambah tekanan pada prospek pertumbuhan dan menambah tantangan bagi kebijakan moneter ke depan. Para pelaku pasar menyimak sinyal ini sebagai indikator seberapa lama bank sentral bisa menahan suku bunga.
Prediksi tentang pengangguran menunjukkan risiko naik di kuartal berjalan mendekati atau melebihi rata-rata triwulan, sebuah faktor yang bisa mengubah keputusan kebijakan. Hal ini menambah kekhawatiran akan peluang kenaikan suku bunga pada periode mendatang jika pasar tenaga kerja menunjukkan ketahanan lekat. Namun, volatilitas data membuat investor menunggu rilis resmi dengan hati-hati.
Dengan CPI Mei yang dinantikan pada akhir Juni, para analis menilai apakah RBA memiliki ruang untuk satu langkah kenaikan lagi atau menahan cash rate untuk periode yang lebih panjang. Pasar akan membandingkan angka inflasi dengan proyeksi bank sentral dan proyeksi fiskal untuk menilai risiko terhadap AUD. Cetro Trading Insight menyarankan tetap fokus pada kerangka kebijakan dan dinamika kredit serta likuiditas pasar sebagai panduan utama.