
Analisis terbaru dari Bank for International Settlements (BIS) melalui ukuran Real Effective Exchange Rate (REER) menunjukkan yen Jepang masih sangat undervalued. Meski nilai tukar euro dan dolar AS relatif mendekati keseimbangan, JPY tetap tertinggal di bawah nilai paritasnya menurut REER lima tahun. Hal ini berarti daya saing Jepang bisa lebih kuat, tetapi juga menambah ketidakpastian bagi mitra dagang global.
Para ekonom mencatat bahwa koordina AS-Jepang dalam kebijakan kurs sedang berjalan, dan Eropa didorong untuk lebih proaktif. Konvergensi valuasi dolar dan euro selama enam bulan terakhir menandakan perubahan dinamika perdagangan internasional. Perubahan ini memperkecil window bagi pelaku pasar untuk mengantisipasi tekanan kurs yang besar.
Pembedaan antara kurang apresiasi yen dan depresiasi yang berkelanjutan menandai perbedaan kebijakan dan aliran permintaan global. Risiko JPY undervalued yang berkelanjutan dipandang lebih relevan bagi Europa, terutama karena persaingan ekspor yang ketat, meskipun China telah menggeser beberapa segmen otomotif. Sinyal intervensi secara kebijakan di masa mendatang masih menjadi fokus pasar karena potensi tekanan pada REER.
BIS juga menyatakan bahwa dolar dan euro telah cenderung menyatu nilainya dalam enam bulan terakhir, menunjukkan konvergensi yang berarti bagi arus modal. Perubahan seri ini menandai bahwa daya beli relatif di dua mata uang utama dunia tidak lagi menunjukkan perbedaan besar.
Sinyal pasar muncul ketika kunjungan pejabat ke Tokyo diiringi penurunan tajam USD/JPY. Investor menunggu data intervensi dari Jepang untuk menilai tekad otoritas menjaga stabilitas kurs. Meski bukti intervensi belum kuat, ketegangan pasar tetap ada.
Selain itu, risiko jangka panjang terkait perlindungan perdagangan masih menyisakan ketegangan. Tariff AS sempat mereda, namun kebijakan tersebut tetap relevan karena menjaga potensi apresiasi REER jika tekanan perdagangan meningkat. Perdebatan kebijakan di Washington dan Brussels juga memperkaya dinamika pasar.
Bagi pelaku pasar, memahami bahwa JPY bisa tetap undervalued akan mempengaruhi cara mereka mengelola eksposur pada pasangan USDJPY. Pendekatan berbasis analisis fundamental terhadap Jepang dan dinamika global membantu investor menyusun strategi jangka menengah, termasuk pertimbangan posisi di berbagai instrumen risiko.
Faktor struktural seperti perubahan permintaan global, inovasi teknologi, dan dinamika perdagangan regional bisa mengubah arah yen dalam jangka menengah. Tekanan pada sektor otomotif Eropa akibat kompetisi global menambah kompleksitas pergerakan valuta yang perlu dipantau secara berkala.
Sebagai pedoman, panduan risiko-untung minimal 1:1.5 direkomendasikan agar investor menimbang potensi keuntungan relatif terhadap risiko. Investor juga disarankan untuk terus mengikuti data ekonomi utama dan kebijakan moneter, karena volatilitas pasar FX bisa meningkat jika ada kejutan kebijakan di masa mendatang.