Analisis MUFG oleh Senior Currency Analyst Lloyd Chan menunjukkan bahwa reli mata uang Asia terhadap dolar dipicu oleh harapan adanya gencatan senjata antara negara adikuasa. Namun pergerakan tersebut tampak terlalu bernafsu terhadap fundamentalnya. Minyak diperkirakan tetap memiliki lantai struktural dan imbal hasil AS tetap tinggi, sehingga dolar AS tetap menjadi tolok ukur utama bagi pasar.
Relief rally di pasar Asia terasa rapuh dan sementara, bukan perubahan arah yang mendasar. Pelaku pasar menilai bahwa sisa risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan tetap membayangi. Jika ketidakpastian tersebut kembali muncul, pergerakan penguatan mata uang Asia bisa mundur.
Secara regional, kekuatan yuan CNY berperan sebagai penopang stabilitas. SGD juga menunjukkan ketahanan berkat infrastruktur energi yang kokoh, diversifikasi sumber energi, dan ruang fiskal yang cukup untuk menjaga stabilitas di level yang relatif rendah terhadap dolar.
Untuk mengubah reli yang didorong sentimen menjadi pemulihan yang berkelanjutan, beberapa syarat perlu terpenuhi. Pertama, dibukanya kembali lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz sehingga volume tanker kembali normal. Kedua, harga minyak perlu turun secara berkelanjutan untuk meredam tekanan inflasi yang mendorong imbal hasil surat utang negara. Ketiga, kebijakan moneter AS perlu kembali ke jalur pelonggaran agar arus modal ke mata uang berisiko bisa berubah.
Hingga saat ini ketiga syarat tersebut belum terpenuhi secara jelas. Pasar menanti isyarat lebih lanjut mengenai arah kebijakan dan dinamika geopolitik yang dapat memicu pergeseran aliran modal. Tanpa perubahan signifikan pada faktor tersebut, reli Asia FX berisiko menghadapi koreksi atau bertahan dalam batas tertentu.
Di sisi lain, penguatan yuan tetap menjadi fokus karena dianggap memberikan anchor stabil bagi likuiditas regional. SGD diperkirakan tetap reliatif stabil di sekitar level kunci karena dukungan infrastruktur energi dan respons fiskal yang memadai, meskipun tetap di bawah tekanan minyak dan dolar.
Bagi trader, temuan ini menekankan bahwa peluang besar bergantung pada kejutan kebijakan dan dinamika harga minyak. Fokus utama adalah pada bagaimana faktor fundamental berinteraksi dengan aliran modal dan likuiditas global. Kunci risiko masih terkait dengan volatilitas geopolitik dan perubahan sikap bank sentral.
Dalam jangka pendek, korelasi antara dolar yang kuat dan mata uang Asia cenderung memperlihatkan tren yang tidak konsisten. Trader disarankan untuk memperhatikan perkembangan di Selat Hormuz, harga minyak, serta pernyataan kebijakan moneter Fed. Penilaian risiko perlu dilakukan secara berkala agar sinyal trading mengacu pada data terbaru.
Secara keseluruhan, artikel ini menekankan bahwa sinyal jangka pendek pada pair USDJPY belum cukup untuk rekomendasi pembelian atau penjualan yang tegas. Cetro Trading Insight menyarankan pendekatan hati-hati dengan evaluasi risiko yang memadai, karena potensi upside dan downside seimbang pada saat ini.