Industri perbankan nasional masih memiliki ruang yang kuat untuk menopang pertumbuhan kredit di masa depan, asalkan manajemen risiko, likuiditas, dan kualitas pembiayaan dijaga ketat. Dalam Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan OJK, para pemangku kepentingan menegaskan fondasi industri yang kokoh, didukung CAR tinggi, likuiditas memadai, dan komitmen untuk ekspansi kredit secara bertanggung jawab. Pernyataan ini disampaikan oleh Hery Gunardi, Direktur Utama BRI, yang menekankan bahwa pertumbuhan kredit bisa berjalan secara prudent dan berkelanjutan meski tantangan permintaan tetap ada.
Secara fundamental, likuiditas industri menunjukkan momentum positif. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga DPK mencapai 11,4 persen, sedangkan rasio Loan-to-Deposit Ratio LDR terjaga di sekitar 84 persen. Selain itu, permodalan industri tetap kokoh dengan Capital Adequacy Ratio CAR di level 26 persen, jauh di atas batas minimum regulator. Kendati demikian, pertumbuhan kredit YoY hingga Desember 2025 masih berada pada level single digit.
Data Bank Indonesia mencatat bahwa permintaan kredit baru menurun di sebagian besar segmen, terutama kredit konsumsi dan UMKM, sehingga pertumbuhan kredit secara year on year Desember 2025 masih berada pada level single digit. Di sisi lain, undisbursed loan meningkat rata-rata sekitar 10,22 persen, menunjukkan bahwa fasilitas kredit yang telah disetujui masih belum direalisasikan sepenuhnya. Artinya, ketersediaan dana tidak jadi masalah; kepercayaan dan prospek usaha ke depan yang perlu diperkuat agar ekspansi berjalan.
Situasi likuiditas sehat tetap menjadi pondasi, tetapi permintaan kredit tidak sepenuhnya pulih karena sikap wait and see dunia usaha serta daya beli yang belum pulih sepenuhnya. Bank-bank besar, termasuk BRI, menekankan pentingnya meningkatkan keyakinan pelaku usaha agar investasi dan ekspansi kembali berjalan. Dalam konteks ini, diversifikasi pembiayaan dan penyesuaian produk menjadi kunci untuk menangkap peluang di segmen yang tumbuh.
NPL pada UMKM mulai meningkat sejak Desember 2024 dan bertahan pada level yang lebih tinggi, menandakan tekanan arus kas pelaku usaha kecil belum pulih sepenuhnya. Kondisi ini menuntut pendekatan mitigasi risiko yang lebih selektif, terutama di segmen mikro dan UMKM yang sangat sensitif terhadap dinamika biaya dan permintaan. Sektor-sektor utama seperti manufaktur, perdagangan, dan pertanian tetap menjadi motor perekonomian nasional, sehingga perlambatan di tiga bidang tersebut langsung menggoyang kebutuhan pembiayaan.
Hasilnya adalah perlunya diversifikasi pembiayaan ke sektor bernilai tambah tinggi untuk mengurangi sensitivitas siklus kredit. Hery menegaskan bahwa meski pemerintah telah meluncurkan Rp200 triliun sebagai dukungan likuiditas, arah kebijakan perlu mendorong ekspansi nyata, bukan sekadar optimisme. Bankir menekankan perlunya akselerasi implementasi program-program nasional yang tidak hanya menambah kredit, tetapi juga memperkuat ekosistem pembiayaan yang berkualitas dan berkelanjutan.
BRI dan bank Himbara lainnya berkomitmen untuk tetap menjadi mesin pembiayaan bagi program-program nasional yang produktif. Dalam konteks ekonomi yang prospektif, kebijakan fiskal dan moneter dinilai kredibel dan pro-growth, sehingga mayoritas pelaku usaha menunjukkan optimisme terhadap prospek ekonomi meski percepatan ekspansi riil belum sepenuhnya dirasakan. Cetro Trading Insight menilai kerja sama antara pemerintah dan perbankan akan memperkuat basis pembiayaan untuk sektor produktif.
Berbagai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis, Program 3 Juta Rumah, dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dinilai sebagai pendorong multiplier bagi kredit dan penghimpunan DPK. Program-program ini diharapkan meningkatkan daya beli, mempercepat penciptaan lapangan kerja, dan pada akhirnya mengembalikan momentum ekspansi kredit ke sektor riil. Perbankan, terutama BUMN yang tergabung dalam Himbara, tetap menjadi poros pembiayaan ekosistem pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Ke depan, fokus industri adalah beralih dari sekadar optimisme menuju implementasi nyata yang dirasakan pelaku usaha. Cetro Trading Insight menilai bahwa ruang ekspansi kredit tetap luas jika bank menjaga kualitas pembiayaan, memperkuat manajemen risiko, serta memanfaatkan peluang di sektor bernilai tambah tinggi. Dengan sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang sejalan, ekspansi kredit yang berkualitas diharapkan dapat mendorong lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat secara berkelanjutan.