Rupiah berada di kisaran 16.95–16.97 ribu per dolar, dan level 17.000 menjadi area perhatian pasar. Sorotan utama adalah bagaimana BI akan menahan laju pelemahan rupiah di tengah arus modal yang fluktuatif. Market players menilai bahwa gerak nilai tukar masih dipengaruhi oleh kejutan eksternal dan ketidakpastian kebijakan.
Rapat kebijakan BI diprediksi mempertahankan BI-Rate di 4.75%. Sinyal tersebut bertujuan menenangkan pelaku pasar sambil mempertimbangkan kesiapan untuk menahan tekanan pelemahan. Investor juga mencermati dinamika imbal hasil obligasi dan bagaimana hal itu mempengaruhi arus modal masuk atau keluar. Ketidakpastian fiskal turut menjadi bagian dari kebijakan transmisi moneter yang diamati pasar.
Data kredit Desember yang tumbuh sekitar 7,74% menjadi indikator permintaan domestik serta efektivitas transmisi kebijakan. IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,3% untuk 2026, dan Indonesia diprakirakan tetap kuat di sekitar 5,1% untuk 2026–2027. Secara umum, profil risiko rupiah tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.
IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi 3,3% dan 2027 diperkirakan 3,2%, meski momentum global masih moderat. Proyeksi ini menegaskan ketahanan ekonomi domestik meski lingkungan global membaik secara terbatas. Untuk Indonesia, pertumbuhan diperkirakan tetap kuat di kisaran 5,1% pada 2026–2027, menambah keyakinan terhadap permintaan domestik.
Sentimen terhadap aset dolar melemah akibat eskalasi ketegangan AS-UE dan kebijakan perdagangan yang berubah. Tariff 10% terhadap beberapa negara Eropa memicu koreksi pasar saham, meningkatkan kehati-hatian investor, dan memberi tekanan terhadap eksposur dolar. Pasar menimbang risiko kebijakan moneter AS yang berpotensi menggeser aliran modal global.
Data ketenagakerjaan AS, rilis PDB, serta inflasi pilihan The Fed melalui PCE inti akan menjadi penentu arah dolar dan rupiah ke depan. PMI manufaktur dan jasa AS juga dinilai penting bagi peta risiko global. Rangkaian data ini dapat membentuk ekspektasi kebijakan The Fed dan memengaruhi dinamika nilai tukar rupiah.
Pasar menantikan keputusan BI yang diperkirakan mempertahankan BI-Rate di 4.75%. Kebijakan ini diharapkan menahan pelemahan rupiah sambil mencermati risiko aliran keluar dari pasar obligasi domestik. Selain itu, fokus pasar juga pada reaksi terhadap risiko fiskal dan kemampuan transmisi kebijakan terhadap sektor riil.
Pergerakan mata uang global turut mempengaruhi rupiah, terutama dinamika The Fed dan kandidat Ketua The Fed. Sinyal kebijakan fiskal dan moneter AS berpotensi menambah volatilitas jangka pendek bagi USDIDR. Investor juga menilai data ekonomi AS untuk menilai arah aliran modal di masa depan.
Secara teknikal, area 16.900 sebagai penahan jangka pendek menambah peluang stabilisasi jika BI menahan sikap berhati-hati. Namun jika arus asing kembali meningkat, rupiah bisa melemah menuju 16.85 atau lebih rendah. Tanpa penurunan konsisten, pasar cenderung berhati-hati dan menunggu arah kebijakan serta data domestik.