Rupiah ditutup melemah 81 poin alias 0,48 persen ke level Rp16.868 per USD pada perdagangan Senin. Pelemahan ini menambah tekanan pada mata uang negara berkembang di tengah sentimen global yang bergejolak. Sinyal volatilitas di pasar forex tampak meningkat seiring para pelaku pasar menimbang risiko geopolitik dan faktor domestik.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa eskalasi di Timur Tengah menjadi pendorong utama pelemahan rupiah. Ia menegaskan kematian tokoh berpengaruh di Iran meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang meluas. Potensi gangguan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz menjadi faktor tambahan yang memperberat volatilitas mata uang di pasar global.
Serangan terhadap infrastruktur komando di Teheran dan respons berulang ke wilayah Israel serta pangkalan AS di Teluk meningkatkan ketidakpastian di pasar energi. Kapal-kapal tanker dilaporkan rentan terhadap kerusakan tambahan, menambah tekanan pada harga komoditas dan risiko bagi aset berisiko. Dalam konteks global, para trader terus memantau bagaimana dinamika geopolitik ini dapat membentuk arah rupiah dalam beberapa hari mendatang.
Di sisi domestik, PMI manufaktur Indonesia melanjutkan penguatan ke level 53,8 pada Februari 2026 dari 52,6 bulan sebelumnya. Data ini menunjukkan ekspansi solid pada operasi manufaktur nasional dan menandai pertumbuhan terbesar sejak Maret 2024. Daya dorong aktivitas industri terlihat lebih kuat, mencerminkan dinamika positif pada sektor manufaktur.
Pertumbuhan PMI didorong oleh percepatan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia. Permintaan baru naik selama tujuh bulan berturut-turut dengan laju pertumbuhan tertinggi sejak November 2025. Kondisi ini memperkuat narasi bahwa permintaan domestik tetap menjadi motor utama produksi meski ada dinamika eksternal yang berisiko.
Berdasarkan analisis, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp16.860–Rp16.910 per USD. Stabilitas jangka pendek tetap bergantung pada dinamika geopolitik dan aliran modal asing. Meskipun PMI menunjukkan sisi positif, volatilitas eksternal membatasi pergerakan rupiah ke arah tertentu.
Pasar cenderung bergerak dalam pola waspada dengan potensi perdagangan yang sempit karena kombinasi risiko global dan data domestik. Investor disarankan memantau level teknis sekitar kisaran tersebut sambil mempertimbangkan eskalasi geopolitik sebagai risiko utama. Ketegangan regional seringkali memicu pergeseran aliran modal yang dapat meningkatkan volatilitas mata uang negara berkembang seperti Rupiah.
Di sisi data domestik, PMI yang positif memberi sinyal bahwa permintaan internal masih menjadi motor utama kinerja manufaktur. Namun, trader perlu menyadari bahwa faktor eksternal bisa membatasi manfaat dari data positif dalam jangka pendek. Oleh karena itu, penempatan posisi dalam aset berisiko perlu dilakukan secara terukur dengan batasan risiko yang jelas.
Sekalipun analisis ini disertai pandangan netral—tidak ada rekomendasi beli atau jual eksplisit—faktor fundamental seperti geopolitik dan PMI menjadi pendorong utama risiko. Dalam rilis analitik ini, tim Cetro Trading Insight menekankan pentingnya manajemen risiko serta monitoring kisaran harga secara berkala untuk menghadapi volatilitas Rupiah.