SPRE melontar kejutan besar di lantai bursa dengan penurunan yang mengundang perhatian luas. Di Cetro Trading Insight, kami melihat lonjakan tekanan jual yang belum surut dan ARB tetap menjadi panggung utama. Pasar kini menilai likuiditas perseroan sebagai ujian nyata bagi kepercayaan investor.
Pada Kamis (12/2/2026), SPRE ditutup turun 10% ke Rp142, ARB telah berlangsung sembilan hari berturut-turut sejak masa suspensi dibuka. Array analitik kami menilai bahwa pergerakan ini didorong oleh tekanan jual, bukan sekadar sentimen jangka pendek. Dalam prediksi emas internal pasar, skenario SPRE menunjukkan penyesuaian valuasi yang perlu dicermati para pelaku pasar.
Penurunan tersebut juga mendorong kapitalisasi pasar SPRE melemah signifikan menjadi Rp114 miliar. Kinerja keuangan dan prospek operasional perseroan tetap menjadi fokus utama investor. Array data historis menunjukkan pola ARB berulang saat sinyal akuisisi muncul atau gagal.
Langkah Saiko Consultancy Pte Ltd untuk mengakuisisi SPRE akhirnya dibatalkan, menambah gejolak pada sentimen pasar. Rizet Ramawi tetap berkomitmen untuk menjadi pengendali perseroan sesuai kesepakatan IPO, sehingga rencana akuisisi berakhir tanpa proses inti. Kendati prediksi emas di sektor ini cenderung volatil, keputusan ini menekankan pentingnya fokus pada data operasional perseroan.
Saiko Consultancy sebelumnya menyatakan minat untuk mengambil alih SPRE, namun komite pengendalian internal memutuskan batal adalah hasil dari komitmen Rizet Ramawi untuk mempertahankan kendali. Array data terkait alur negosiasi dan komposisi kepemilikan menambah ketidakpastian mengenai struktur kepemilikan di masa depan dan bagaimana hal itu akan mempengaruhi operasional perseroan. Para analis menilai dinamika ini sebagai ujian besar bagi likuiditas saham SPRE menuju jalur pemulihan.
Corporate Secretary SPRE, Arienita Noer, menegaskan bahwa kegiatan usaha perseroan tetap berjalan sebagaimana rencana, dan tidak ada gangguan operasional akibat batalnya akuisisi. Calon pengendali baru masih berdiskusi soal alternatif struktur kepemilikan, serta berkomitmen untuk memberi informasi jika ada perkembangan. Dalam konteks ini, investor disarankan memantau tindakan manajemen dan kebijakan modal kerja perseroan dengan seksama.
Meski koreksi tajam, rekam jejak SPRE memberi pelajaran berharga tentang volatilitas saham mid cap di Indonesia. Pergerakan Juli–September 2025 yang berada di bawah Rp100 menjadi bukti bahwa momentum bisa berubah cepat seiring sentimen investor. Namun, mulai Oktober 2025, harga perlahan pulih hingga Januari 2026, meski terguncang oleh isu akuisisi dan dinamika kepemilikan.
Analisa pasar menunjukkan bahwa prospek SPRE sangat bergantung pada arah kebijakan pemegang kendali dan kinerja operasional perseroan. Investor disarankan menilai laporan keuangan, arus kas, dan rencana strategis perusahaan untuk menilai kelayakan investasi jangka menengah. Para analis juga menekankan pentingnya memantau dinamika kepemilikan dan komunikasi manajemen dengan BEI serta publik.
Prediksi emas untuk aset berisiko seperti SPRE tetap bergantung pada aksi korporasi dan kinerja keuangan perusahaan. Jika rencana kepemilikan dan struktur korporasi mengarah pada stabilitas, peluang kenaikan harga bisa meningkat secara bertahap. Selain itu, data terkait volatilitas saham sejenis mendukung pandangan ini dan mengimbangi risiko lebih lanjut.