Menurut MUFG, pasangan USD/MYR diperkirakan terus menurun dan mencapai sekitar 3.7000 menjelang akhir 2026. Analisis ini didasarkan pada siklus apresiasi Ringgit yang lebih tahan lama, dipicu oleh struktur fundamental negara. Penurunan ini dipandang didukung oleh dinamika investasi ICT dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Ekonomi Malaysia saat ini berada pada upcycle investasi ICT di sektor manufaktur dan jasa. Data 9M25 menunjukkan persetujuan investasi naik 14,7% dibanding periode sebelumnya. ICT menjadi kontributor utama peningkatan investasi, dengan persetujuan ICT tumbuh sekitar 32% YoY.
Stabilitas makro juga menekan premi risiko. Inflasi tetap terkendali meski ada realokasi subsidi RON95 dan penyesuaian PPN. Bank Negara Malaysia diperkirakan menjaga kebijakan netral dengan suku bunga 2,75% sepanjang 2026, didukung aliran obligasi asing yang stabil. Kebijakan fiskal yang disiplin juga menjaga risiko sovereign.
Dukungan eksternal bagi Ringgit muncul dari komoditas yang lebih kuat, permintaan elektronik yang tetap kuat, dan ketahanan yuan (CNY). Kondisi ini mengurangi tekanan pada USD terhadap MYR dan menambah bobot pada proyeksi apresiasi ringgit. Namun, skenario downside tetap ada jika pertumbuhan global melambat tajam.
Analisis juga menyoroti peran kebijakan moneter. BNM diperkirakan menjaga sikap netral dengan suku bunga acuan 2,75% hingga 2026. Perubahan kebijakan Federal Reserve yang lebih lunak berpotensi memperkecil diferensial yield antara AS dan Malaysia. Fenomena ini diperkirakan meningkatkan daya tarik relatif aset berpendapatan tetap Malaysia dan mendorong arus dana asing masuk secara bertahap.
Risk utama meliputi perlambatan global yang tajam, penurunan harga komoditas, atau penurunan siklus elektronik. Ketiga skenario tersebut bisa memperpanjang volatilitas di pasar FX dan membentuk risiko terhadap proyeksi 3,7000. Investor dianjurkan menjaga diversifikasi dan menerapkan manajemen risiko yang ketat untuk menghadapi dinamika pasar.
Secara garis besar, kerangka fundamental memposisikan USD/MYR pada tekanan turun, sejalan dengan target menuju 3,70 pada akhir periode. Namun faktor eksternal seperti perubahan siklus ekonomi global dapat mengubah arah tren ini. Variasi kejutan lain juga bisa muncul dari perubahan kebijakan fiskal dan moneter kawasan.
Untuk trader, proyeksi jangka menengah mendukung pertimbangan posisi bearish terhadap USD/MYR, dengan fokus pada manajemen risiko dan horizon investasi menengah. Analisis ini menekankan nilai wajar relatif dan aliran dana asing sebagai panduan, bukan sekadar prediksi kurs. Kesiapan menghadapi volatilitas tetap penting saat data global dirilis.
Dengan fondasi yang ada, Cetro Trading Insight menilai pola utama tetap mendukung Ringgit dalam kerangka menengah, didorong kebijakan netral BNM dan permintaan global. Peluang untuk ekspansi posisi short pada USD/MYR bisa muncul jika data inflasi domestik dan prospek ekspor elektronik tetap positif. Tetap jaga eksposur risiko dan fokus pada rencana trading yang konsisten dengan gaya investasi masing-masing.