Laporan terkini dari lembaga analisis pasar menunjukkan surplus akun berjalan China pada kuartal keempat 2025 mencapai USD 242 miliar, sekitar 4,9% dari PDB. Angka tersebut menegaskan posisi eksternal negara itu tetap kuat meskipun dinamika perdagangan global sedang berubah. Analis menilai hasil ini mencerminkan kebijakan manajemen yuan yang ketat dan konsisten sepanjang periode tersebut.
Surplus ini tidak terlalu mengejutkan karena China telah mencatat ekspor dengan rekor sepanjang periode tersebut. Kinerja ekspor yang kuat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan saldo berjalan secara keseluruhan. Kondisi ini menunjukkan bahwa arus perdagangan tetap menjadi pendorong utama stabilitas fiskal dan likuiditas negara.
Data juga menunjukkan aliran investasi asing langsung (FDI) meningkat menjadi USD 38,8 miliar, tertinggi sejak awal 2022. Sementara data portofolio masih dalam proses rilis, performa pasar saham China pada kuartal terakhir tidak mengarah pada keluarnya modal dalam skala besar. Banyak analis menilai adanya peran intervensi perbankan dalam menjaga likuiditas dengan membeli obligasi luar negeri untuk menahan volatilitas kurs.
Aliran investasi asing langsung (FDI) kembali melonjak, mencapai USD 38,8 miliar pada kuartal keempat, menandakan kepercayaan investor pada fondasi ekonomi China meski risiko global masih tinggi. Angka ini menambah narasi bahwa kebijakan domestik tetap menguatkan daya tarik investasi asing di pasar China. Selain itu, indikasi bahwa otoritas sedang mempertimbangkan pembelian obligasi luar negeri untuk menjaga keseimbangan arus modal turut berkembang.
Kinerja portofolio masih menunggu pelaporan resmi, namun perkembangan pasar saham pada kuartal tersebut tidak menunjukkan penarikan modal besar-besaran. Hal ini memberi sinyal kehati-hatian investor asing meski tidak ada pelepasan modal secara signifikan. Ketidakpastian seputar data portofolio menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap arus modal lintas negara.
Indikasi intervensi perbankan di pasar valuta menunjukkan upaya menjaga kurva suku bunga dan stabilitas nilai tukar melalui pembelian obligasi asing. Praktik ini lazim dilakukan untuk menahan volatilitas kurs dalam lingkungan arus modal yang dinamis. Meskipun demikian, laporan ini menambah pemahaman bahwa kebijakan arus modal China tetap terkoordinasi dengan tujuan stabilitas finansial jangka menengah.
Langkah intervensi perbankan melalui pembelian obligasi asing menyoroti fokus otoritas pada kestabilan nilai tukar dalam konteks arus modal yang berfluktuasi. Strategi ini biasanya dipakai untuk membatasi lonjakan volatilitas dan menjaga daya saing finansial negara. Dengan demikian, pasar valuta tetap menilai adanya dukungan kebijakan untuk menjaga kestabilan nilai tukar.
Penundaan rilis data portofolio menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar mengenai arah arus modal ke depan. Investor menantikan detail lebih lanjut untuk menilai kekuatan kepemilikan aset asing dan bagaimana aliran modal domestik akan bereaksi terhadap perubahan kebijakan. Skenario ini membuat prediksi arah yuan lebih menantang meski tren kebijakan secara umum tetap terlihat jelas.
Untuk pembaca Cetro Trading Insight, data Q4 2025 ini memperkaya gambaran risiko dan peluang pada ekonomi makro China serta implikasinya bagi strategi investasi jangka menengah. Laporan ini disusun oleh tim analis kami dan disampaikan untuk membantu pembaca memahami bias kebijakan serta respons pasar terhadap rilis data besar. Informasi ini disajikan sebagai analisis fundamental tanpa rekomendasi trading spesifik.