
USD/JPY menunjukkan bias positif untuk hari kelima berturut-turut dalam sesi Asia. Permintaan terhadap dolar AS tetap kuat di pasar global, didorong oleh dominasi likuiditas di USD. Analis menilai tren ini mencerminkan dinamika ekonomi saat ini yang responsif terhadap data baru.
Data makro AS yang masuk lebih tinggi dari ekspektasi meningkatkan spekulasi mengenai kenaikan suku bunga Federal Reserve pada 2026. Investor menilai inflasi yang lebih kuat memberi ruang bagi kebijakan moneter yang lebih tegas. Kondisi ini menjaga tekanan beli pada pasangan USD/JPY meski faktor teknikal beragam.
Geopolitik global dan optimisme hubungan AS–China turut memberi dukungan pada dolar. Ketidakpastian di beberapa wilayah meningkatkan preferensi pada aset berbasis USD. Secara teknikal, pasangan ini mendekati level resistance sekitar 158,50 dan memiliki ruang untuk menguji level tersebut jika likuiditas tetap kuat.
Harga spot USD/JPY bergerak mendekati puncak dua minggu, sekitar 158,5, menjadi fokus para trader. Pergerakan ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap daya tahan dolar di tengah data ekonomi yang kuat. Kondisi ini meningkatkan peluang dolar untuk mempertahankan momentum jangka menengah.
Rilis data inflasi AS yang lebih panas dari ekspektasi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada 2026. Pelaku pasar menyesuaikan posisi untuk menghadapi kebijakan moneter yang lebih ketat. Tekanan inflasi yang masih tinggi menjadi pendorong utama bagi narasi hawkish Fed.
Penjualan ritel AS pada April naik untuk bulan ketiga berturut-turut, menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap kokoh. Laju diskon dan kepercayaan konsumen turut mendongkrak permintaan terhadap dolar. Dengan demikian, kebijakan bank sentral AS diperkirakan tetap condong ke arah kebijakan yang lebih tegas.
Ketegangan antara AS dan Iran serta dinamika hubungan dengan China menjaga volatilitas pasar valuta asing. Ketidakpastian di Hormuz dan wilayah sekitarnya memicu permintaan pada dolar sebagai safe haven. Menurut Cetro Trading Insight, suasana risiko global masih mendukung greenback.
IMF menyambut dialog konstruktif sebagai langkah positif untuk menurunkan ketegangan dagang. Perkembangan hubungan perdagangan dengan mitra utama turut membentuk pandangan investor terhadap dolar. Perluasan kerjasama ekonomi global memberi fondasi bagi stabilitas finansial jangka panjang.
Data PPI Jepang April yang melonjak 4,9% secara tahunan menunjukkan tekanan biaya impor meningkat. Kenaikan harga minyak dan tekanan logistik terkait konflik regional menambah beban pada Yen. Meskipun ada spekulasi intervensi pemerintah Jepang, dampak terhadap USD/JPY tetap tergantung pada dinamika dolar secara luas.