Analisis pasar valuta asing menunjukkan bahwa spekulasi mengenai kemungkinan pembubaran parlemen dan pemilihan mendesak di Jepang meningkat menjelang akhir pekan. Francesco Pesole dari ING menilai bahwa dinamika politik ini menciptakan ketidakpastian yang mendukung pergerakan USD/JPY. Upaya pembubaran dan pemilihan bisa memperkuat mandat politik jika terjadi, yang biasanya direspon positif oleh mata uang domestik, meskipun kondisi saat ini belum memberi kepastian.
Langkah-langkah yang diharapkan terkait kebijakan mata uang sering dipersepsikan secara teoretis untuk memperkuat kekuatan mayoritas di parlemen. Jika target politis itu tercapai, reaksi pasar terhadap yen bisa berubah dan mempengaruhi likuiditas USD/JPY. Namun hingga saat ini, ketidakpastian politik telah memicu pembelian spekulatif atas pasangan ini pada hari Jumat, di mana batas toleransi pembuat kebijakan diuji oleh dinamika volatilitas.
Menariknya, yen tetap menjadi satu-satunya mata uang utama G10 yang tidak menunjukkan keuntungan dari berita yang datang dari The Fed, menunjukkan hubungan yang tidak selalu sejalan antara kebijakan valuta asing global dan nilai tukar yen. Dalam konteks ini, para trader menilai bahwa faktor domestik bisa menjadi pendorong utama jika sentimen kebijakan AS berubah secara signifikan.
Berdasarkan intervensi FX Jepang terbaru pada Juli 2024, para analis menilai bahwa ada preferensi untuk menunda tindakan sampai muncul katalis pasar yang negatif bagi USD, misalnya laporan IHK AS yang lebih lemah. Strategi seperti ini menunjukkan bahwa otoritas masih ingin menjaga konteks stabil jika data ekonomi tidak meng saatkan tekanan negatif bagi yen.
Spot diperdagangkan sekitar 162 ketika intervensi dimulai, sementara level yang terlihat saat ini berada sekitar 157,9, menunjukkan selisih sekitar 2,5 persen. Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap gradasi kebijakan dan intervensi yang direkayasa, sambil menjaga volatilitas dalam kisaran yang dapat diterima untuk operasional kebijakan moneter.
Jika risiko terkait kebijakan The Fed mereda, USD/JPY menghadapi potensi kenaikan yang lebih luas menuju 160. Banyak analis melihat angka itu sebagai area resistance teknikal yang juga diakui sebagai garis batas kebijakan oleh BoJ. Dengan demikian, pergerakan menuju target 160 bisa menjadi sinyal bahwa tekanan volatilitas tetap relevan di pasar mata uang utama.
Dalam kerangka kebijakan moneter global, pergerakan harga di USD/JPY cenderung menimbang faktor fundamental sambil mempertimbangkan dinamika teknikal jangka pendek. Para trader perlu memantau level harga kunci di sekitar 157–158 yang bisa menjadi zona dukungan awal jika kondisi pasar berubah, sementara resistance utama berada mendekati 160.
Rencana trading yang disarankan adalah posisi beli pada USD/JPY dengan open sekitar 157,9 untuk menargetkan 160, sementara stop loss di sekitar 156,5. Rasio risiko terhadap imbalan sebesar 1:1,5 terpenuhi dengan jarak TP sekitar 2,1 poin dan SL sekitar 1,4 poin. Strategi ini mengasumsikan bahwa momentum bullish dipicu oleh faktor politik Jepang dan dinamika kebijakan AS.
Secara umum, volatilitas di pasar FX tetap tinggi menjelang perkembangan kebijakan dan rilis data ekonomi penting. Investor disarankan untuk menempatkan fokus pada dinamika Fed serta retorika BoJ, sambil menilai peluang jangka pendek yang bisa memantik pergerakan menuju 160 tanpa mengorbankan manajemen risiko secara ketat.