
USD/JPY telah menembus sekitar 162, level tertinggi 2024, dan menyentuh level yang terakhir terlihat pada era 1980-an. Pergerakan ini menandai momentum dolar AS yang kuat di tengah perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter global. Secara teknikal, pasangan ini menunjukkan minat beli yang signifikan meski ada kekhawatiran mengenai potensi intervensi BoJ. Dari sudut pandang Cetro Trading Insight, lonjakan ini juga mencerminkan bagaimana faktor makro dan teknis saling menguatkan satu sama lain.
Di balik pergerakan teknis tersebut, faktor fundamental yang lebih luas turut membentuk arus pasar. Dolar AS mendapat dukungan dari ketetapan kebijakan moneter yang berbeda antara negara maju, sehingga permintaan terhadap USD masih tinggi. Sementara itu, Yen menampilkan respons yang terbatas terhadap tekanan eksternal karena kebijakan domestik masih menjadi pusat perhatian investor. Secara keseluruhan, kombinasi faktor ini menjelaskan mengapa USD/JPY melampaui level yang signifikan.
Dalam konteks kebijakan internasional, pasar juga menilai bagaimana IMF dan dinamika cadangan devisa memengaruhi ruang untuk intervensi. Laporan awal menunjukkan bahwa pelaku pasar menimbang klasifikasi IMF atas sistem nilai tukar Jepang sebagai “floating” atau kebijakan bebas. Hasilnya dapat mempengaruhi seberapa jauh BoJ bersedia bertindak tanpa menimbulkan risiko bagi stabilitas fiskal dan finansial domestik.
BoJ secara historis telah menunjukkan kesiapan untuk melibatkan diri dalam pasar mata uang, terutama ketika yen melemah signifikan. Diperkirakan kembali, BoJ akan melakukan intervensi lagi dalam hari-hari atau minggu-minggu mendatang setelah udah menjual lebih dari $70 miliar pada akhir April dan awal Mei pada level di atas 160. Intervensi semacam ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa tekanan biaya impor dan biaya hidup di Jepang meningkat. Sementara itu, bank sentral menghadapi keterbatasan cadangan devisa yang mendasar, sehingga keputusan untuk bertindak perlu dilakukan dengan cermat.
IMF juga memperhatikan bagaimana Jepang mengelola sistem nilai tukarnya. Status klasifikasi IMF terhadap kebebasan floating dapat berisiko terganggu jika intervensi dilakukan terlalu sering dalam periode pendek. Secara teknis, IMF mendefinisikan sebuah “insiden” intervensi berlangsung tidak lebih dari tiga hari kerja, dan akumulasi beberapa intervensi bisa memicu peninjauan ulang rezim nilai tukar. Hal ini menambah tekanan bagi BoJ untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan kebijakan moneter domestik.
Untuk rentang waktu dekat, para analis menilai bahwa BoJ bisa menunda tindakan hingga menyimak dampak potensi data AS yang bersifat hawkish. Dalam skenario terbaik bagi dolar, laporan pekerjaan AS bulan Juni dan pernyataan pejabat bank sentral AS bisa menjadi katalis untuk gerak lanjutan USD/JPY. Jika BoJ menahan diri hingga mendekati pertengahan Juli, volatilitas di pasar yen tetap tinggi jelang libur utama Jepang, Marine Day, pada 20 Juli. Dalam konteks ini, pergerakan menuju kisaran 164–165 akhir Juli tidak sepenuhnya di luar kemungkinan.
Cadangan devisa Jepang saat ini berada di sekitar $1,1 triliun, sebuah posisi yang memberi ruang bagi intervensi jika diperlukan. Namun, para analis menekankan bahwa cadangan devisa bersifat finite dan tindakan penjualan besar berulang kali perlu dilakukan dengan kehati-hatian. Titik balik psikologis di sekitar $1 triliun juga tidak otomatis menjadi lantai yang kuat, karena dinamika pasar bisa berubah dengan cepat. Dalam konteks ini, investor perlu memantau arah kebijakan dan respons pasar secara seksama.
Selain itu, status IMF terhadap sistem kurs Jepang menjadi perhatian utama. Intervensi berulang dalam enam bulan bisa mendorong peninjauan terhadap klasifikasi rezim nilai tukar menjadi hanya “floating”. IMF memperjelas bahwa sebuah “insiden” intervensi berlangsung tidak lebih dari tiga hari kerja, sehingga akumulasi tindakan tahun ini bisa memicu perubahan pandangan institusi tersebut. Implikasi ini dapat mempengaruhi preferensi pelaku pasar terhadap yen di jangka menengah.
Bagi pelaku pasar, potensi volatilitas tetap tinggi meski ada peluang intervensi. Rencana trading perlu mempertimbangkan risiko dan reward yang seimbang, dengan fokus pada arah jangka menengah terhadap USD/JPY. Jika pendorong utama berupa pernyataan hawkish AS atau perubahan kebijakan BoJ terkonfirmasi, skema buy dengan target yang realistis bisa dipertimbangkan, asalkan risiko terbatas dan rencana keluar jelas. Skenario alternatif tetap ada jika volatilitas tetap tinggi dan situasi kebijakan berubah secara mendadak.