USD/JPY terlihat melemah pada sesi ini setelah data inflasi Jepang yang lebih tenang dari ekspektasi. Laju CPI nasional Januari mencapai 1.5% secara tahunan, turun dari 2.1% pada bulan Desember, dan menjadi kecepatan terendah sejak Maret 2022. Data inti, tanpa makanan segar, juga menunjukkan pelambatan menjadi 2.0%.
Faktor tersebut menambah spekulasi bahwa BoJ perlu menilai pelonggaran kebijakannya lebih hati-hati. Meskipun beberapa komponen inflasi inti menunjukkan ketahanan, tekanan harga layanan tetap menjadi pilar penting. Analis seperti Société Générale memperingatkan bahwa disinflasi ini sebagian besar bersifat sementara karena energi rendah dan langkah fiskal, sehingga normalisasi bisa terjadi secara bertahap.
Penguatan yen secara moderat menambah dinamika pada pasar mata uang, meskipun risikonya tetap tinggi karena kejutan kebijakan yang mungkin datang. Pasar terus memantau kapan BoJ bisa menyesuaikan suku bunga atau memperlakukan sinyal kebijakan secara jelas. Secara umum, data inflasi yang melunak berpotensi mengurangi dorongan untuk kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, meski jalur kebijakan belum pasti.
Di sisi Amerika Serikat, dolar tertekan oleh putusan Mahkamah Agung yang membatalkan sebagian tarif keamanan nasional, menambah ketidakpastian perdagangan. Dolar menjadi lebih rentan terhadap dinamika kebijakan perdagangan dan risiko geopolitik. Sementara itu, data PDB kuartal terakhir menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 1.4%, memberikan gambaran ekonomi yang tidak terlalu kuat.
Indikator aktivitas bisnis dari S&P Global menunjukkan sedikit melambat pada bulan Februari. Pasar juga menilai perubahan momentum dari survei konsumen dan indeks sentimen Michigan, yang menunjukkan penurunan di Februari. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa dolar bisa tetap lembek dalam jangka pendek.
Pergeseran tersebut memperkuat sentimen risiko terhadap dolar AS dalam jangka pendek. Investor menimbang bagaimana keputusan politik dan data ekonomi akan mempengaruhi jalur suku bunga Federal Reserve. Akibatnya, pergerakan USD/JPY dapat bergantung pada dinamika kebijakan fiskal dan perdagangan yang lebih luas.
Para trader perlu memantau rilis data ekonomi AS selanjutnya, karena data tersebut bisa mengubah arah pasangan ini. BoJ juga akan menjadi fokus utama karena adanya potensi penyesuaian bertahap terhadap kebijakan. Manajemen risiko dan penempatan stop akan menjadi kunci ketika volatilitas meningkat.
Pengamatan terhadap level utama sekitar harga pasar saat ini menjadi krusial, dengan kemungkinan pergerakan tergantung dari rilis inflasi Jepang dan komentar pejabat BoJ. Jika data AS menguat atau pernyataan kebijakan fiskal berubah, bias jangka pendek bisa berubah secara signifikan. Trader perlu menilai skenario upside dan downside dengan cermat dan menjaga tugas proteksi modal.
Cetro Trading Insight menekankan bahwa meski sinyal ini mengarah ke tekanan turun di jangka pendek, keputusan tetap bergantung pada data terbaru dan kebijakan bank sentral. Penting bagi pembaca untuk menggabungkan pembaruan pasar dengan manajemen risiko agar tetap hadir peluang tanpa eksposisi berlebihan. Media kami berkomitmen menyajikan analisis yang jelas dan praktis bagi pembaca.