Dollar AS berada di sekitar level tertinggi empat minggu setelah rilis minut FOMC yang menunjukkan pembuat kebijakan tidak tergesa-gesa untuk memangkas suku bunga. Rilis tersebut memberikan gambaran jelas tentang sikap kebijakan yang cenderung hati-hati meski inflasi masih menunjukkan tantangan. Akibatnya, indeks dolar terhadap enam mata uang utama bergerak mendekati 98.00, memperlihatkan minat terhadap aset berdenominasi dolar di awal sesi perdagangan.
Pelemahan pelonggaran agresif dari Fed meningkatkan daya tarik dolar bagi investor yang mencari perlindungan nilai saat volatilitas pasar meningkat. Pejabat bank sentral tetap fokus pada tekanan inflasi dan prospek pemulihan yang tidak terlalu cepat, sehingga pengurangan likuiditas kebijakan belum menjadi prioritas. Banyak pelaku pasar menilai langkah ini sebagai sinyal bahwa dolar bisa tetap kuat dalam beberapa bulan ke depan.
Secara teknikal, dinamika ini menambah tekanan pada dolar jika data ekonomi berikutnya menguatkan pandangan tidak adanya pemotongan suku bunga dalam waktu dekat. Sinyal sentimen pasar yang menguat terhadap dolar bergantung pada rilis data ekonomi yang lebih lanjut yang akan keluar dalam beberapa minggu mendatang. Pelaku pasar siap menyesuaikan ekspektasi kebijakan sesuai arah data tersebut.
Investor menilai bahwa rilis Q4 Gross Domestic Product (GDP) dan PMI S&P Global untuk Februari akan menjadi penentu arah dolar dalam sesi perdagangan berikutnya. Proyeksi menunjukkan pertumbuhan ekonomi tahunan pada sekitar 3%, lebih rendah daripada laju 4,4% pada kuartal sebelumnya. Angka ini bisa menegaskan bahwa momentum ekspansi menurun meski masih berada dalam wilayah positif.
PMI gabungan S&P Global diperkirakan naik dari level sebelumnya sekitar 53,0, mencerminkan perbaikan aktivitas di sektor manufaktur dan jasa. Peningkatan ini bisa menjadi konfirmasi bahwa dinamika ekonomi Amerika masih membaik meski laju pertumbuhan melambat. Jika data menunjukkan kejutan positif, dolar berpotensi mempertahankan arah kuatnya terhadap beberapa pasangan utama.
Investors akan menimbang bagaimana data tersebut berinteraksi dengan pedoman kebijakan Fed. Ketika inflasi tetap menargetkan, pasar bisa menilai bahwa Fed akan menjaga kebijakan stabil lebih lama untuk meredam risiko tekanan harga. Respons pasar terhadap rilis data kunci ini akan menjadi penentu arah dolar dalam jangka pendek hingga menengah.
Pelaku pasar menilai dinamika risiko dengan hati-hati karena data ekonomi utama bisa memicu bias volatilitas di pasar valuta asing. Pergerakan dolar bergantung pada bagaimana data Q4 GDP dan PMI Februari mengejutkan pasar, baik ke arah positif maupun negatif. Dalam kondisi ini, likuiditas bisa berfluktuasi tergantung pada kejutan data yang muncul.
Jika data menunjukkan pertumbuhan moderat dan inflasi tetap di atas target, dolar bisa mempertahankan soliditasnya di jangka pendek. Di sisi lain, jika data mengecewakan atau memberikan sinyal kebijakan yang lebih longgar, arah dolar bisa berbalik melemah. Investor disarankan tetap memantau komentar pejabat Fed dan rilis data berikutnya untuk menyesuaikan rencana eksekusi posisi dengan manajemen risiko yang prudent.
Secara umum, rekomendasi strategi bagi trader adalah fokus pada pemantauan rilis data kunci dan menjaga jarak risiko yang jelas. Pasar bisa menunjukkan reaksi saat berita keluar, sehingga kesiapsiagaan dalam mengelola posisi menjadi kunci. Dalam konteks ini, tujuan utamanya adalah menjaga kepastian strategi dengan batasan kerugian yang terkendali dan target keuntungan yang realistis.