Cetro Trading Insight menilai bahwa laporan tenaga kerja AS yang akan datang diperkirakan tidak akan mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve maupun menimbang ulang harga dolar secara material. Analisis ini menekankan bahwa pasar telah memangkas ekspektasi pemotongan suku bunga untuk 2026, sejalan dengan kekuatan indikator inflasi dan kenaikan harga bensin yang menjaga tekanan terhadap kebijakan moneter. Ketidakpastian terkait konflik geopolitik turut membatasi nilai proyeksi data tenaga kerja sebagai faktor pendukung pergerakan USD di masa depan.
Menurut Volkmar Baur dari Commerzbank, data pekerjaan kerap menjadi pendorong utama pergerakan pasar, namun kondisi saat ini membuat dampaknya terhadap harga USD relatif terbatas. Laporan tenaga kerja yang akan dirilis diperkirakan memiliki dampak marginal terhadap eksekusi pasar hari ini. Pada pekan sebelumnya, pasar telah mengangkat harga potongan bunga menjadi harga akhir tahun, meski beberapa hari sebelumnya ekspektasi pemotongan sekitar 2,5 kali lipat untuk tahun ini masih terlihat. Saat saat ini, banyak kebutuhan yang harus terpenuhi agar tren pemangkasan tersebut dapat berubah secara signifikan.
Selain itu, faktor harga bensin di AS yang sekitar 20% di atas rata-rata Februari menambah risiko terhadap CPI dengan potensi peningkatan sekitar 0,3 persentase poin jika tren tersebut berlanjut. Di sisi lain, jika tenaga kerja menunjukkan kejutan positif, dampaknya terhadap pasar masih diperkirakan relatif kecil karena data tersebut dikumpulkan sebelum konflik berlangsung. Secara keseluruhan, sulit membayangkan pasar akan secara signifikan mereprice USD berdasarkan laporan tenaga kerja selama konflik berlanjut.
Garis besar analisis menyatakan bahwa belum ada gambaran menyeluruh yang menuntut pelonggaran kebijakan lebih lanjut. Pasar tampaknya belum menemukan sinyal kuat untuk perubahan kebijakan Fed berdasarkan data tenaga kerja terbaru, sehingga potensi perubahan kebijakan masih terbatas pada skenario yang lebih panjang.
Selain faktor tenaga kerja, tekanan inflasi yang didorong oleh harga bensin tetap menjadi faktor penentu. Ketahanan harga energi memberi dukungan pada asumsi bahwa respons pasar terhadap data tenaga kerja akan bersifat moderat, apalagi jika konflik internasional masih berlangsung. Dalam konteks ini, risiko jangka pendek bagi USD cenderung tetap rendah meskipun data NFP atau payroll bisa saja mengejutkan.
Secara penutup, analisa ini menegaskan bahwa laporan tenaga kerja AS memiliki dampak terbatas terhadap kebijakan Fed dan pergerakan dolar dalam jangka pendek. Pembaca disarankan memantau dinamika konflik serta dinamika inflasi yang dipandu oleh harga energi, karena kedua faktor tersebut lebih berperan dalam menentukan arah USD dibandingkan data tenaga kerja saja.