Yen Jepang berada di level tekanan sekitar 155.20 terhadap USD di awal sesi Asia, menunjukkan bagaimana pergerakan pasangan mata uang utama masih sensitif di awal minggu. Data inflasi Jepang yang relatif moderat menambah peluang BoJ untuk menahan langkah kebijakan dalam waktu dekat. Kondisi ini memperlihatkan volatilitas yang lebih tinggi di pasar valuta asing regional.
Di sisi lain, dolar AS tetap kuat karena FOMC Minutes menunjukkan komite tidak tergesa-gesa dalam memotong suku bunga. Indeks DXY berputar mendekati 98.00, mendekati puncak tertinggi tiga minggu. Pasar menilai bahwa tekanan inflasi di AS masih berada di atas target 2% meski sinyal perlambatan terlihat.
Sinyal inflasi Jepang yang lebih moderat menambah tekanan terhadap BoJ untuk menahan diri dari kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Data CPI nasional inti dan komponen inti yang melambat mengurangi dorongan kebijakan hawkish di Jepang. Pelaku pasar menimbang bahwa kebijakan BoJ akan tetap berhati-hati sambil menunggu konfirmasi data fiskal dan global.
Para ekonom memperkirakan PDB AS untuk Q4 tumbuh sekitar 3% secara tahunan, turun dari laju 4.4% pada pembacaan sebelumnya. Penurunan momentum ini menambah gambaran bahwa momentum pemulihan ekonomi AS sedang melambat, meski tetap positif. Angka tersebut dapat menjaga prospek suku bunga AS tetap relatif tinggi dalam jangka menengah.
S&P Global Composite PMI untuk Februari diperkirakan menunjukkan ekspansi yang lebih kuat di sektor manufaktur dan jasa, menandai aktivitas bisnis yang solid meski ada tantangan global. Data PMI yang lebih baik dari ekspektasi dapat menambah dukungan bagi dolar di pasar internasional. Selain itu, pasar menunggu rilis data lanjutan untuk konfirmasi arah kebijakan moneter AS.
Fokus pasar juga tertuju pada pernyataan FOMC bahwa tidak ada keharusan untuk segera memotong suku bunga, sehingga dolar tetap mendapatkan dukungan. Indeks DXY berada sekitar 98.00 dan menunjukkan daya tahan greenback meski volatilitas masih ada. Secara keseluruhan, dinamika data AS mencoba menyeimbangkan dengan narasi kebijakan BoJ dan perubahan sentimen di Jepang.
Kebijakan moneter AS tetap menjadi pendorong utama bagi USDJPY. Komite FOMC menegaskan kesiapan untuk menjaga suku bunga lebih tinggi lebih lama jika diperlukan, yang meningkatkan daya tarik dolar bagi investor. Sementara itu, sinyal inflasi Jepang yang melunak memberi ruang bagi BoJ untuk menunda langkah kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Dari sisi analisis, artikel ini menekankan bahwa faktor fundamental lebih penting daripada sinyal teknikal semata. Tanpa data konkret yang mengarah pada arah jelas, tidak ada sinyal trading yang dapat diandalkan dari pembahasan saat ini. Investor disarankan menunggu rilis data berikutnya serta komentar pejabat kebijakan untuk konfirmasi arah pasar.
Menurut Cetro Trading Insight, pergerakan USDJPY akan sangat bergantung pada bagaimana data AS dan Jepang berkembang serta bagaimana BoJ merespons dinamika inflasi. Kami akan terus memantau kebijakan dan rilis data untuk memberikan panduan lebih lanjut. Saat ini, fokus pada manajemen risiko tetap menjadi langkah utama bagi setiap strategi trading.