Yen mundur dari level tertinggi dua tahun di sekitar 159,45 karena dolar AS melemah tipis. Perkembangan politik dalam negeri Jepang menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar. Spekulasi bahwa Perdana Menteri Takaichi akan membubarkan majelis rendah untuk mengadakan pemilihan mendadak memperburuk tekanan pada yen, khususnya terhadap kebijakan stimulus besar dan suku bunga rendah yang diusung timnya.
Di balik itu, pasar khawatir bahwa hasil pemilihan dapat memperkuat dukungan parlementer untuk Takaichi dan melanggengkan reformasi fiskal yang agresif. Ketidakpastian politik ini memicu gerakan jual terhadap yen dan juga menambah tekanan pada obligasi pemerintah Jepang JGB jangka panjang. Di sisi lain, yen masih menjadi salah satu mata uang terlemah sepanjang minggu seiring volatilitas meningkat saat para pedagang menilai bagaimana kebijakan fiskal negara itu akan membentuk aliran likuiditas.
Di antara faktor utama adalah rilis data ekonomi AS yang akan datang termasuk Penjualan Ritel dan IHP serta pidato beberapa pejabat Federal Reserve. Investor menilai arah kebijakan moneter AS yang lebih hawkish dan bagaimana itu mempengaruhi dolar. Kondisi ini menjaga USDJPY tetap berada dalam fokus trader sebagai barometer hubungan risiko global.
Dolar AS menguat didorong oleh harapan bahwa The Fed akan mempertahankan sikap hawkish meskipun inflasi moderat. Pasar menantikan rilis IHP dan Penjualan Ritel AS untuk menilai momentum ekonomi dan jalur kebijakan bank sentral. Ketidakpastian mengenai jawaban kebijakan akan membebani arah pasangan USDJPY jika data menunjukkan tenaga kerja saat ini lebih kuat dari ekspektasi.
Beberapa pembicara The Fed dijadwalkan tampil pada sesi Amerika, termasuk pejabat yang dianggap memahami arah kebijakan. Komentar mereka dapat mengubah persepsi risiko pasar dan arus modal di obligasi maupun mata uang. Pasar juga merespons indikasi bahwa The Fed bisa menjaga suku bunga pada level tinggi lebih lama, meski ada tanda moderasi inflasi.
Para trader juga menantikan keputusan Mahkamah Agung AS terkait isu perdagangan yang bisa menambah volatilitas pada perdagangan global. Keputusan tersebut berpotensi mempengaruhi sentimen risiko dan arus modal ke aset berisiko. Secara keseluruhan, kombinasi data AS dan pernyataan kebijakan jelas menjadi pendorong utama dinamika USDJPY dalam beberapa sesi ke depan.
Dari sudut pandang teknikal, USDJPY menunjukkan peluang naik ketika harga berdiri di atas area support pendek. Jika harga berhasil menembus resistance utama di sekitar 159,0-159,5, ruang lonjakan menuju 160,0-161,0 bisa terbuka. Namun volatilitas tetap tinggi karena faktor politik Jepang dan rilis data AS yang berurutan bisa memicu pantulan signifikan.
Rekomendasi sinyal trading untuk saat ini adalah membeli USDJPY dengan open 158.60, target 160.30, stop loss 157.80. Rasio reward-to-risk sekitar 2.1:1, memenuhi syarat minimum 1:1.5. Pastikan manajemen risiko yang ketat serta mematuhi rilis data utama untuk menghindari kejutan pasar.
Manuver trading sebaiknya dilakukan dengan ukuran posisi yang sesuai toleransi risiko dan menutup posisi jika ada perubahan neg pertanda bahwa data AS atau komentar Fed membawa sentimen pasar berbalik arah. Selalu gunakan rencana keluar jika harga bergerak melawan arah utama atau jika volatilitas meningkat mendadak. Investor juga perlu mengikuti poros kebijakan Jepang dan komentar kebijakan fiskal untuk memahami tekanan terhadap yen dan potensi dampaknya pada USDJPY.