USD/SGD saat ini bergerak dalam kisaran relatif sempit mendekati posisi terendah terbaru. Data US CPI yang lebih lemah dan laporan tenaga kerja yang melambat menjaga ekspektasi pemotongan suku bunga Fed tetap hidup, sehingga menekan dolar AS secara umum. Kondisi ini membuat pasangan mata uang ini cenderung tertahan di kisaran rendah tanpa arah yang jelas dalam jangka pendek.
Selain itu, penguatan yen (JPY) dan yuan (RMB) turut menopang SGD, sementara ekspektasi bahwa MAS akan melanjutkan pengetatan kebijakan turut menjaga dinamika pasangan ini di sekitar zona kuat. Dampak kebijakan tersebut tercermin melalui S$NEER yang diperkirakan berada di sisi kuat bandnya, menambah dukungan bagi SGD terhadap USD.
Secara teknikal, USD/SGD berada pada rentang dengan downside terbatas. Level kunci yang diperhatikan adalah support di 1.2590 (rendah Januari) dan resistance di 1.2670 serta 1.2710 (21-DMA). Karena belum ada katalis baru, pergerakan dua arah tetap mungkin terjadi sepanjang periode ini.
Faktor kebijakan tetap menjadi penggerak utama. MAS dinilai berpotensi melanjutkan pengetatan kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, yang jika terealisasi bisa memberi dorongan lebih kuat bagi SGD terhadap USD. Namun, tingginya ketidakpastian global membuat ekspektasi kebijakan MAS tidak sepenuhnya jelas dan bisa berubah sesuai data ekonomi domestik maupun global.
Perkembangan di pasar global, terutama kekuatan JPY dan RMB, juga membentuk risiko bagi USD/SGD. Sinyal dari pasar bahwa dolar AS bisa melemah lebih lanjut jika data ekonomi AS membentuk pola pelemahan, akan meningkatkan potensi isu bagi USD/SGD untuk turun lebih dalam. Trader disarankan memantau rilis data AS dan keputusan kebijakan MAS secara berkala untuk menilai keberlanjutan tren.
Menurut Cetro Trading Insight, tanpa katalis baru, USD/SGD cenderung menunjukkan perilaku dua arah dan tidak ada sinyal jelas untuk aksi trading yang optimal. Level 1.2590 sebagai support dan 1.2710 sebagai resistance menjadi referensi utama bagi evaluasi risiko. Pembaca disarankan mempertahankan kerangka manajemen risiko dan menghindari posisi terlepas kendali tanpa konfirmasi signal yang lebih kuat.