Indosat Tbk (ISAT) mencatat laba bersih Rp5,5 triliun sepanjang 2025, naik 12% dibandingkan periode sebelumnya Rp4,9 triliun. Laporan keuangan yang dirilis memberi gambaran jelas mengenai momentum pertumbuhan yang patut diperhatikan bagi investor maupun analis. Ringkasannya, publikasi ini diringkas oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca yang ingin memahami dinamika kinerja sektor telekomunikasi Indonesia dengan lebih terarah.
Secara operasional, laba usaha tetap terjaga di level Rp10,8 triliun meskipun beban pokok pendapatan naik 4% yoy. Pertumbuhan pendapatan sebesar 1% yoy didorong oleh peningkatan eksekusi layanan serta efisiensi biaya. Penurunan opex sebesar 10% yoy menjadi faktor penahan biaya yang mampu menjaga profitabilitas dalam konteks persaingan pasar yang sengit.
Penyusunan laporan saat ini menampilkan komposisi pendapatan: segmen selular Rp47,35 triliun, MIDI Rp8,34 triliun, dan telekomunikasi tetap Rp817,6 miliar. EBITDA perseroan tercatat Rp26,59 triliun dengan margin 47%. Pencapaian ini menegaskan posisi Indosat sebagai pemain yang mampu mengakselerasi pendapatan melalui layanan data dan solusi digital.
Kontributor utama peningkatan laba bersih pada kuartal IV-2025 adalah lonjakan ARPU menjadi Rp44 ribu, level tertinggi sejak 2022. Peningkatan ARPU memperdalam pendapatan per pelanggan dan mendukung sisi profitabilitas perusahaan di periode laporan. Hal ini menjadi indikasi bahwa strategi harga dan paket layanan yang lebih kompetitif efektif menarik satuan pelanggan yang lebih bernilai.
Laba bersih ISAT untuk kuartal IV-2025 melonjak 86% menjadi Rp1,9 triliun, didorong oleh peningkatan ARPU serta kontribusi pendapatan dari layanan data. EBITDA juga menjaga tren positif meskipun beban pokok pendapatan meningkat, menunjukkan efisiensi operasional yang berkelanjutan. Arus kas operasional tetap kuat, sejalan dengan alokasi investasi jaringan dan layanan digital yang lebih fokus.
Perlu dicatat bahwa efisiensi biaya dan struktur biaya yang lebih rasional membantu EBITDA tumbuh meski beban pokok pendapatan meningkat. Margin EBITDA tetap substansial pada level yang mendukung kapasitas investasi perusahaan untuk memperluas jaringan. Investor sebaiknya memantau faktor-faktor kunci ini karena akan mempengaruhi dinamika profitabilitas di tahun-tahun mendatang.
Pergerakan harga saham ISAT tercatat Rp2.200 pada Selasa, 10 Februari 2026, menguat 4,27% setelah terkoreksi 1,86% di awal pekan. Penguatan harga didorong oleh laporan keuangan 2025 yang menunjukkan perbaikan fundamental dan potensi pertumbuhan ARPU yang berkelanjutan. Dinamika harga ini mencerminkan minat pasar terhadap valuasi saham-saham telekomunikasi Indonesia yang memiliki hasil keuangan positif.
Secara fundamental, Indosat menunjukkan fondasi bisnis yang relatif kuat dengan margin EBITDA yang sehat dan arus kas operasional yang cukup untuk mendukung investasi infrastruktur. Secara teknikal, pergerakan harga didorong oleh sentimen positif terhadap kinerja keuangan dan strategi digital perusahaan. Pelaku pasar seimbang antara potensi pertumbuhan dan volatilitas pasar yang lebih luas di sektor telekomunikasi.
Dalam konteks investasi, pembaca Cetro Trading Insight disarankan memantau perkembangan ARPU, capex, serta respons pasar terhadap inisiatif layanan data dan digital. Evaluasi risiko meliputi dinamika regulasi, persaingan, dan perubahan lanskap teknologi yang dapat memengaruhi kapasitas perusahaan untuk menjaga pertumbuhan laba.