
TransJakarta berencana menggelar tender besar untuk bus listrik pada 2026, dan VKTR Teknologi Mobilitas Tbk berpotensi mengambil posisi terdepan. Menurut Cetro Trading Insight, kekuatan VKTR didorong oleh kemitraannya dengan BYD, produsen kendaraan listrik asal China, yang memperkuat kepercayaan operator dalam pengadaan besar ini. Dengan fokus pada solusi mobilitas berkelanjutan dan produksi lokal, VKTR berada di jalur untuk menjadi salah satu pemain kunci di tender ini.
Rencana pengadaan pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 300 unit bus listrik, dengan rincian 200 unit berukuran 12 meter dan 150 unit berukuran 8 meter. Kehadiran VKTR dalam tender tersebut dipandang menguat berkat kemitraannya dengan BYD, menambah keyakinan pengelola TransJakarta terhadap daya saing perseroan. Pengalaman TKDN sebesar 40 persen juga menjadi nilai tambah yang meningkatkan peluang VKTR meraih kontrak signifikan.
Saat ini armada bus listrik VKTR telah beroperasi sekitar 165 unit selama hampir 50 bulan, dengan jarak tempuh rata-rata sekitar 210 kilometer per hari. Kondisi operasional yang stabil membuat VKTR dianggap siap memenuhi permintaan tender besar apabila didorong oleh dukungan teknis dan layanan purna jual yang solid. Proyeksi pendapatan 2026 dari bus listrik diperkirakan mencapai sekitar Rp268 miliar dengan asumsi penjualan sekitar 70 unit.
Di ranah e-MaaS, VKTR dipandang memiliki margin yang lebih menarik pada truk listrik dibanding bus listrik. Samuel Sekuritas menyebut bahwa gross profit margin untuk etruck bisa mencapai sekitar 20 persen, jauh di atas kisaran 8 persen untuk bus listrik. Faktor ini, ditambah potensi penghematan bahan bakar sekitar 20 persen, memperlihatkan peluang profitabilitas jangka panjang bagi VKTR.
Keunggulan kompetitif VKTR juga terlihat dari potensi sinergi dengan Bakrie Group. Afiliasi seperti PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) berpotensi menjadi pelanggan awal truk listrik VKTR, mempercepat adopsi produk. Kehadiran mereka juga membantu memperkuat rekam jejak, layanan purna jual, serta pemenuhan TKDN.
Untuk mendanai ekspansi melalui model e-MaaS, VKTR berencana melakukan rights issue melalui anak usahanya, SEI. Sekitar 80 persen dana yang dihimpun akan dialokasikan untuk belanja modal SEI, sementara sisanya 20 persen akan digunakan sebagai modal kerja. Perseroan telah menandatangani nota kesepahaman dengan sejumlah calon pelanggan, termasuk DEWA, guna mendukung peluncuran dan ekspansi layanan sewa bus listrik dan truk listrik.
Meski optimistis, VKTR juga menghadapi tantangan yang perlu diwaspadai. Persaingan ketat dari produsen mobil listrik lainnya, ketatnya rantai pasokan, serta dinamika harga komponen dapat memengaruhi laju pengadaan. Dukungan regulasi, termasuk TKDN 40 persen, bisa menjadi peluang atau hambatan tergantung implementasinya.
S secara operasional, VKTR telah menambah kapasitas dan menyiapkan bus ukuran 8 meter untuk melengkapi lini produknya pada 2026, guna mengisi celah kebutuhan operator transportasi. Dengan jumlah armada yang telah ada, perusahaan berada pada posisi yang lebih siap untuk memenuhi permintaan pelanggan yang beragam. Refleksi terhadap performa 2026 akan bergantung pada kemampuan menjaga biaya produksi dan layanan purna jual.
Sebagai investor, penilaian terhadap VKTR harus melihat kontribusi pendapatan dari bus listrik versus truk listrik, serta risiko terkait rencana pendanaan melalui rights issue. Kembali menimbang biaya, margin, dan kapasitas produksi, tren dekarbonisasi sektor tambang dan perkebunan dapat mendorong permintaan jangka menengah. Monitor terus perkembangan kemitraan, progres proyek tender, serta implementasi model e-MaaS untuk memperoleh gambaran profitabilitas jangka panjang.