
WTI turun menuju sekitar $73,20 per barel pada hari ini, terpantau turun sekitar 2,3% sepanjang hari. Level itu merupakan yang terendah dalam tiga bulan bagi kontrak berjangka minyak mentah tersebut. Para pelaku pasar menimbang prospek normalisasi aliran minyak seiring meredanya kekhawatiran atas konflik di Timur Tengah. Secara mingguan, harga minyak turun lebih dari 10%, menambah tekanan pada sentimen risiko energi.
Tekanan jual meningkat setelah AS dan Iran menandatangani perjanjian damai pada Rabu. Kesepakatan tersebut secara tegas menjanjikan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz yang aman, sebuah jalur kunci bagi pasokan global. Selain itu, Amerika Serikat berkomitmen memberikan sanksi pada minyak Iran dan membebaskan sebagian dana beku, sambil membentuk dana rekonstruksi untuk menutupi kerusakan perang. Kebijakan tersebut menambah volatilitas jangka pendek meskipun ada harapan peningkatan aliran minyak di masa mendatang.
Swiss Ministry of Foreign Affairs mengonfirmasi bahwa pembicaraan berlanjut di resor Burgenstock untuk membahas implementasi kesepakatan. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa aliran energi di wilayah tersebut akan normal secara bertahap, membantu menenangkan kekhawatiran global tentang pasokan. Di sisi lain, data inventori minyak mentah AS tetap menjadi faktor yang menentukan arah harga, meski sentimen pasar didominasi oleh prospek kesepakatan tersebut.
Secara umum, narasi pasar menunjukkan kemungkinan aliran pasokan yang lebih stabil di wilayah tersebut seiring tanda-tanda normalisasi produksi. Harapan terhadap pemulihan aliran minyak membuat pasar menimbang risiko terkait gangguan pasokan. Meski begitu, dinamika geopolitik tetap menjadi variabel utama yang bisa mengubah arah harga kapan saja.
Data EIA untuk minggu yang berakhir 12 Juni menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah komersial sebesar 8,262 juta barel, jauh melebihi ekspektasi analis sekitar 4,6 juta barel. Penurunan itu menandai sepuluh minggu berturut-turut penurunan stok, dan menempatkan stok AS pada level terendah dalam lebih dari empat dekade. Secara teknis, penarikan cadangan besar biasanya memberi dorongan pada harga, namun pasar tetap didominasi oleh optimisme terhadap kesepakatan AS-IRAN.
Permintaan global dan penggunaan energi juga memainkan peran kunci, meskipun fokus utama saat ini tertuju pada jalur pasokan dan geopolitik. Jika ketegangan mereda dan aliran minyak mulai kembali normal, harga berpotensi menguji level resistance yang lebih tinggi. Namun jika implementasi kesepakatan terhambat atau ada insiden baru di Timur Tengah, tekanan harga bisa kembali melemah.
Secara umum, kebijakan fundamental seperti ini membuat sinyal perdagangan WTI tidak terlalu jelas untuk dipetakan saat ini. Investor perlu menimbang keseimbangan antara ekspektasi normalisasi pasokan dan respons data inventori mingguan. Ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor yang bisa mengubah arah pasar dalam beberapa hari ke depan.
Karena tidak ada konfirmasi jelas untuk aksi beli maupun jual, pendekatan yang bijak adalah pengelolaan risiko yang lebih ketat dan tidak mengambil posisi besar pada satu arah. Rekomendasi untuk saat ini adalah menjaga posisi yang netral dan fokus pada diversifikasi, mengingat volatilitas yang masih tinggi. Karena sinyal perdagangan untuk instrumen ini adalah no, perhatikan rencana manajemen risiko dan evaluasi ulang seiring perkembangan berita.
Jika ada perubahan signifikan pada jalur Hormuz atau implementasi kesepakatan, pasar bisa berubah arah dengan cepat. Pelaku pasar dianjurkan memantau pembaruan geopolitik serta data inventori mingguan AS sebagai indikator utama aliran minyak. Laporan ini disediakan oleh Cetro Trading Insight.