
Menurut Cetro Trading Insight, WTI berfluktuasi secara ringan di sekitar level mendekati $98 per barel, karena kekhawatiran bahwa gangguan di Selat Hormuz bisa berlanjut. Pasar menunggu perkembangan negosiasi AS-Iran yang tampaknya mandek serta respons dari OPEC+ terhadap tekanan geopolitik. Ketakutan akan gangguan jalur pasokan mendasari pergerakan harga meskipun belum ada lonjakan signifikan.
Data inflasi AS yang lebih tinggi memperlihatkan bagaimana harga energi masih menjadi faktor penggerak utama biaya hidup. Angka CPI April naik menjadi 3.8% secara tahunan, sementara PPI melonjak 6.0% YoY, melampaui estimasi pasar. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa volatilitas harga minyak bisa bertahan dalam beberapa minggu ke depan.
Survei EIA menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 4.306 juta barel untuk pekan yang berakhir 8 Mei, melampaui perkiraan pasar. Laporan OPEC Monthly Oil Market Report menyoroti pengetatan pasokan akibat produksi turun di beberapa negara Timur Tengah. Kombinasi penurunan pasokan dan dukungan permintaan global menjaga dinamika harga tetap positif meski risiko geopolitik belum mereda.
OPEC+ melaporkan produksi minyak mentah mencapai 33.19 juta bpd pada April 2026, turun 1.74 juta bpd dari Maret karena gangguan di wilayah Timur Tengah. Pengetatan pasokan ini memberikan dukungan bagi harga, terutama bila permintaan global terus menunjukkan daya dorong. OPEC juga menaikkan proyeksi pertumbuhan permintaan 2026 menjadi 1.2 juta bpd dan revisi ke atas untuk 2027 menjadi 1.5 juta bpd.
Analisis pasokan dan permintaan menunjukkan dinamika yang saling berpengaruh. Dampak gejolak regional mendorong produsen regional untuk mengatur produksi secara lebih hati-hati. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan peningkatan tekanan inflasi global, yang pada akhirnya memengaruhi kemampuan konsumsi energi secara luas.
Data inventori energi AS memperkuat narasi pasokan ketat; EIA melaporkan penurunan lebih besar dari perkiraan. Penarikan 4.306 juta barel menambah dukungan pada harga karena stok bersih menipis. Di sisi lain, dinamika permintaan global yang diperkirakan tumbuh menunjukkan potensi dukungan berkelanjutan untuk harga minyak di masa mendatang.
Mengamati level saat ini, harga WTI tetap berada di bawah $100 dengan beberapa faktor fundamental yang mendukung perbaikan harga jika dinamika pasokan tetap ketat. Kudeta harga ini muncul karena pembatasan aliran melalui Selat Hormuz serta penarikan pasokan dari OPEC+, ditambah dengan dorongan permintaan global yang berpotensi tumbuh. Namun, volatilitas kebijakan dan risiko geopolitik tetap menjadi risiko utama bagi arah jangka pendek.
Dalam konteks teknikal, area resistance utama berada di sekitar $99–$100 dan breaking di atas level tersebut bisa membuka peluang ke kisaran $101–$102. Sementara itu, jika harga gagal menembus rintangan tersebut, turun ke area $95–$96 bisa menjadi skenario koreksi yang wajar. Investor disarankan memperhatikan data ekonomi AS dan pernyataan OPEC untuk memahami arah berikutnya.
Rencana perdagangan yang disarankan adalah membeli pada koreksi mendekati level pembuka sekitar $97.8 dengan stop loss di $95.5 dan target profit sekitar $101.5. Rasio risiko-imbalan sekitar 1:1.61 tercapai jika harga bergerak sesuai harapan. Tindakan ini sesuai dengan fokus pada pengetatan pasokan dan pembatasan pasokan global yang berpotensi mengangkat harga minyak.