Harga minyak mentah WTI melemah di awal sesi Eropa setelah lonjakan pasokan minyak Venezuela mengikuti kesepakatan pasokan bernilai US$2 miliar bulan lalu. Pasar menilai bahwa peningkatan aliran minyak Venezuela dapat menambah volatilitas, meski permintaan tetap menjadi faktor pendangkalan utama di pasar global. Analis memperingatkan volatilitas bisa meningkat seiring dinamika geopolitik dan kebijakan produksi negara produsen.
Data API menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 11,1 juta barel pada minggu lalu, penurunan terbesar sejak Juni. Penurunan ini berpotensi menambah dukungan atas harga meskipun volatilitas jangka pendek masih tinggi. Investor juga memantau perkembangan di poros geopolitik sebagai faktor risiko tambahan.
Secara kebijakan, OPEC+ memperkirakan permintaan minyak akan pulih secara bertahap mulai Maret atau April, dan keputusan mengenai kelanjutan peningkatan produksi akan diambil 1 Maret. Komentar tersebut menambah konteks bagi trader untuk menilai arah jangka menengah. Dalam konteks ini, harga minyak bisa menguji level resistensi seputar kisaran $65 per barel jika sentimen pasokan tetap positif.
Insiden ketegangan di wilayah Teluk menambah risiko gangguan pasokan. AS dilaporkan menjatuhkan drone Iran dekat kapal induk di Laut Arab, sementara kapal bersenjata mendekati kapal berbendera AS di Selat Hormuz. Kedua peristiwa tersebut memperluas risiko supply shock dan memperkuat pandangan pasar bahwa suplai minyak bisa lebih rentan terhadap gangguan.
Gedung Putih menegaskan bahwa jalur diplomatik tetap terbuka dan pembicaraan AS-Iran rencananya dilanjutkan pada hari Jumat. Sementara Uni Emirat Arab menyerukan deeskalasi dan pemanfaatan pemulihan pembicaraan nuklir untuk meredakan tensi. Langkah diplomatik ini berpotensi menahan lonjakan harga tetapi juga menambah ketidakpastian jangka pendek.
Beberapa anggota OPEC, termasuk Arab Saudi, Iran, UAE, Kuwait, dan Irak, tetap menjadi penghasil utama melalui Selat Hormuz, membuat kebijakan produksi mereka berdampak langsung ke suplai global. Kondisi ini membuat pasar terus mengawasi sinyal dari pertemuan OPEC+. Di sisi lain, dinamika geopolitik menambah bias volatilitas yang perlu diperhitungkan para trader.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Harga WTI | Sekitar $63.50/barel |
| Persediaan API | -11,1 juta barel |
| Prediksi Permintaan OPEC+ | Diperkirakan pulih bertahap mulai Maret/April |
Dari sisi analisis, faktor fundamental tetap mendorong peluang kenaikan jika sentimen geopolitik mereda, atau jika data permintaan memperlihatkan momentum yang lebih kuat. Para pelaku pasar dapat memantau pergerakan harga di kisaran awal sesi perdagangan sambil memonitor volume transaksi untuk konfirmasi arah.
Bagi para trader, pendekatan strategi bisa fokus pada pergerakan di sekitar level $63–$65 dengan konfirmasi volume dan tren yang jelas. Penerapan manajemen risiko menjadi kunci, dengan penempatan stop loss yang wajar dan penentuan target keuntungan yang realistis.
Rencana perdagangan yang direkomendasikan adalah open posisi di sekitar $63.50 dengan stop loss di $62.50 dan target keuntungan di $65.00. Skenario ini memenuhi kriteria risiko/imbalan minimal 1:1,5 jika volatilitas pasar mendukung pergerakan tersebut. Analisis ini sepenuhnya didasarkan pada data fundamental dari API, dinamika pasokan, dan ketegangan geopolitik, sebagaimana dipublikasikan oleh Cetro Trading Insight.