Harga WTI menguat mendekati $63,75 pada sesi Asia, mencerminkan kombinasi tekanan geopolitik dan ekspektasi permintaan global. Pasar menilai bahwa ketegangan antara AS dan Iran berpotensi menjaga volatilitas pasokan di wilayah produsen utama. Cetro Trading Insight menekankan bahwa pergerakan harga belum mengubah fondasi permintaan global secara menyeluruh, sehingga pergerakannya lebih sensitif terhadap berita geopolitik.
Menurut laporan CNBC, militer AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln. Insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran akan gangguan rantai pasokan di Teluk, yang cenderung memberikan dukungan bagi minyak berdenominasi USD. Analisis menunjukkan bahwa eskalasi geopolitik bisa menimbang arah jangka pendek harga minyak, meski faktor permintaan global masih menjadi penentu jangka menengah.
Di sisi lain, negosiasi AS-Iran menghadapi dinamika baru: Iran meminta pembicaraan di Oman dan membatasi topik hanya pada isu nuklir, memperumit upaya diplomatik. Kondisi geopolitik tetap menjadi variabel risiko utama bagi outlook minyak karena pasokan masih rentan terhadap kejadian mendadak. Pasar tampak berhati-hati namun tetap rentan terhadap berita baru yang dapat memicu pergerakan signifikan.
Laporan American Petroleum Institute (API) pekan ini menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah AS sebesar 11,1 juta barel untuk pekan yang berakhir 30 Januari, sebuah penarikan besar dibandingkan dengan periode sebelumnya. Data ini menambah sinyal positif bagi harga WTI yang berada di sekitar level $63,75. Namun, para analis menyarankan untuk tetap menimbang variasi hasil data API dengan rilis EIA yang akan datang.
Konsensus pasar memperkirakan kenaikan persediaan sekitar 700.000 barel menurut jajaran analis, meskipun API menunjukkan penurunan yang spektrum. Perbedaan ini menyoroti dinamika jangka pendek antara data aktual dan ekspektasi pasar. Karena itu, arah harga akan sangat bergantung pada bagaimana pasar menerjemahkan kedua data tersebut ketika data EIA dirilis.
Selain itu, data EIA yang dijadwalkan pada Rabu menjadi fokus utama pasar karena keluaran itu bisa mengubah lintasan harga secara signifikan. Dalam konteks ini, peranan dolar AS juga penting: pergerakan USD bisa membatasi kenaikan harga komoditas berdenominasi USD jika dolar menguat. Trader sebaiknya memantau bagaimana respons pasar terhadap data EIA dan dinamika dolar untuk menilai peluang trading.
Situasi pasar minyak menunjukkan sensitivitas yang tinggi terhadap faktor geopolitik dan kebijakan moneter AS. Market participants menilai bahwa jalur harga minyak tetap rawan jika suku bunga tidak turun dengan cepat, meski data persediaan bisa memberi dukungan sesaat. Outlook jangka menengah akan tergantung pada kehendak bank sentral dan bagaimana pasar menilai risiko geopolitik.
Gubernur Kevin Warsh yang diusulkan untuk menjadi Ketua Federal Reserve bisa mempengaruhi arah kebijakan neraca dan kecepatan pengetatan, sehingga berpotensi mengubah dinamika likuiditas di pasar komoditas. Para trader minyak perlu menilai komentar kebijakan serta sinyal dari Federal Reserve dalam menilai timing entry dan exit. Ketidakpastian kebijakan moneter menambah volatilitas, namun juga menciptakan peluang bagi pergerakan harga minyak.
Di sisi lain, penguatan dolar AS cenderung membatasi lonjakan harga minyak berdenominasi USD meski persediaan menunjukkan penurunan. Investor disarankan memadukan analisis fundamental dengan sinyal teknikal untuk menilai arah jangka pendek. Dengan risiko dan potensi imbalan yang seimbang, manajemen risiko tetap diperlukan, terutama terkait volatilitas yang terkait faktor geopolitik.