
Harga minyak mentah WTI tergelincir selama beberapa hari terakhir, diperdagangkan sekitar 75,60 dolar per barel pada jam perdagangan Eropa. Para pelaku pasar menimbang dampak potensial dari perjanjian damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran terhadap pasokan minyak global. Ketidakpastian mengenai pemulihan pengiriman melalui Selat Hormuz turut membayangi pergerakan harga.
Beberapa pelaku pasar menyimak perkembangan bahwa kapal tanker Iran berhasil menembus blokade angkatan laut AS pekan ini, sementara satu kapal kosong menuju Teluk Oman. Kemajuan diplomatik ini memberi sinyal bahwa rute pengiriman minyak Iran berpotensi kembali bergerak meskipun negosiasi masih berlangsung. Analisis menunjukkan bahwa pemulihan fisik pasar akan memerlukan waktu sebelum efeknya terlihat di tingkat likuiditas.
Meski risiko geopolitik mulai berkurang, para analis menekankan bahwa jalur normalisasi operasional belum sepenuhnya pulih. Pasar tetap fokus pada bagaimana arus kapal melalui Hormuz dapat kembali mendekati level pra-krisis. Secara umum, berita politik mempengaruhi dinamika harga, tetapi realisasi manfaatnya masih terjadi secara bertahap.
Data pasar menunjukkan dinamika yang mengarah ke keseimbangan jangka pendek meski permintaan sedang fluktuatif. Struktur kontango mulai kembali terlihat, menandai bahwa ketersediaan pasokan dekat lebih besar dibandingkan ekspektasi permintaan saat ini.
Informasi harga menunjukkan penurunan premi Dubai terhadap swap menjadi 46 sen, menandai kontango pertama sejak Januari. Perubahan ini mengindikasikan bahwa pasar jangka pendek lebih longgar dari sebelumnya.
Sementara itu, diferensial spot untuk Oman dan Murban berbalik menjadi diskonto sebesar 67 sen dan 49 sen. Perubahan ini memperlihatkan tekanan pada pasar fisik regional, sekaligus menegaskan bahwa arus kas untuk kargo dekat waktu semakin menantang dari sisi harga.
Terlepas dari kemajuan diplomatik, pemulihan fisik melalui jalur Hormuz diperkirakan memakan waktu. Perjanjian antara AS dan Iran berpotensi membawa insentif ekonomi bagi Tehran, tetapi efeknya terhadap volume ekspor minyak terasa secara bertahap.
Armada pengiriman melalui Hormuz tetap berada di bawah pemantauan ketat, dengan beberapa kapal masih menunda pemuatan atau transit karena faktor keamanan dan inspeksi. Ketidakpastian ini menjaga volatilitas pasar meski tanda-tanda normalisasi mulai terlihat pada beberapa data pelayaran.
Para investor disarankan melihat risiko geopolitik yang kini sudah terintegrasi dalam harga sambil menilai proyeksi pasokan dan permintaan ke depan. Jika tren pasokan tetap menambah kelebihan di pasar, posisi jual bisa lebih relevan sebagai langkah hedging terhadap penurunan harga.