Laporan dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan lonjakan signifikan pada stok minyak mentah AS sebesar 11,4 juta barel pada minggu yang berakhir 20 Februari, membalik tren penarikan pasokan sebelumnya. Data tersebut menambah kekhawatiran bahwa pasokan berlebih bisa menekan harga di jangka pendek. Pasar menunggu konfirmasi dari data EIA yang rilis kemudian untuk melihat arah pergerakan selanjutnya.
Lonjakan stok menambah tekanan pada harga minyak dan menambah volatilitas di pasar global. Investor juga menilai bagaimana inventaris bisa mencerminkan perilaku permintaan domestik di tengah ketidakpastian ekonomi. Meski demikian, faktor-faktor global seperti risiko pasokan tetap menjadi pendorong utama pergerakan harga.
Secara teknikal, pergerakan harga berada di sekitar level sekitar 65,9 dolar per barel dengan peluang terpantau untuk rebound jika data EIA menunjukkan penarikan lebih besar dari perkiraan. Namun jika angka EIA kembali menunjukkan surplus, tekanan ke bawah bisa berlanjut menuju rentang 64-66 dolar. Investor disarankan memantau arah laporan EIA serta reaksi pasar terhadap berita potensi gangguan pasokan.
Rantai pasokan minyak global tetap rapuh karena jalur Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20% aliran minyak dunia, terus menjadi fokus risiko geopolitik. Para trader mencermati setiap saat potensi eskalasi yang bisa mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz. Ketidakpastian ini menjaga volatilitas harga meski data inventaris AS menunjukkan kelebihan pasokan tahun ini.
Pernyataan pejabat Iran dan narasi negosiasi nuklir meningkatkan spekulasi apakah ada peluang mencapai kesepakatan. Teheran menyatakan kesiapan untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk menjaga kepentingan nasional dan mencapai kesepakatan, yang pada gilirannya bisa menekan risiko sanksi lebih lanjut. Pasar tetap waspada terhadap perubahan status negosiasi yang dapat memicu perubahan signifikan dalam harga minyak.
Kebijakan pasokan dari negara produsen utama juga menjadi bagian dari perhitungan risiko bagi para trader. Sinyal-sinyal dari laporan acara diplomatik dan laporan kemajuan negosiasi antara AS dan Iran mempengaruhi ekspektasi aliran minyak di masa depan. Pada saat yang sama, harga juga dipengaruhi oleh respons pasar terhadap anyela tindakan di daerah strategis lainnya.
Tarif perdagangan AS sebesar 10% diterapkan secara bertahap, dengan rencana menaikkan menjadi 15% berpotensi menekan permintaan minyak secara global. Investor menilai bagaimana kebijakan proteksionis dapat memukul pertumbuhan ekonomi dan konsumsi energi. Namun untuk saat ini para pedagang tetap fokus pada bagaimana negosiasi nuklir berlanjut dan bagaimana kebijakan tersebut memengaruhi permintaan jangka mendatang.
Permintaan minyak diperkirakan akan menyesuaikan diri dengan dinamika perdagangan, produksi, dan jalur pasokan yang tetap rapat. Produsen minyak juga mempertimbangkan reaksi pasar terhadap tarif dan potensi perubahan kebijakan di masa mendatang. Para analis menilai bahwa meskipun ada tekanan dari tarif, pasokan global dan output negara produsen besar akan menyeimbangkan pasar jika negosiasi berjalan lancar.
Bagi trader, fokus utama tetap pada data inventaris reguler dan perkembangan diplomatik yang dapat memicu pergerakan harga. Dengan skema risiko-imbalan minimal 1:1,5, trader disarankan menempatkan level TP dan SL sesuai dengan arah tren yang dicermati, sambil menjaga disiplin manajemen risiko. Pergerakan harga yang konsisten diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara potensi keuntungan dan risiko kerugian.