Laporan EIA menunjukkan stok minyak mentah AS naik 8,53 juta barel pada pekan terakhir, angka yang melampaui ekspektasi pasar. Lonjakan persediaan ini memperburuk gambaran keseimbangan pasokan dalam jangka pendek dan memberi tekanan pada harga WTI jika permintaan tidak segera merespons.
Meski persediaan naik, beberapa analis menyampaikan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap kuat, mendukung permintaan untuk bahan bakar transportasi, petrokimia, dan pembangkit listrik. Kondisi demikian dapat menahan penurunan lebih lanjut meski sentimen makro yang lebih hati-hati melingkupi pasar.
Saat ini WTI diperdagangkan sekitar 64,15 dolar per barel, turun sekitar 1,1 persen pada hari itu. Reaksi pasar terhadap data inventori terbaru menunjukkan bahwa faktor fundamental masih menjadi penentu arah dalam jangka pendek.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menahan penurunan lebih lanjut, karena risiko gangguan pasokan memberi premi terhadap harga minyak.
OPEC mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan untuk 2026 dan 2027 sebesar 1,38 juta dan 1,34 juta barel per hari, sembari menilai sisi suplai non-OPEC yang tetap menjadi bagian penting dari dinamika pasar.
Investor menantikan rilis laporan bulanan IEA yang berpotensi menyoroti risiko surplus global. Jika angka-angka menunjukkan kelebihan pasokan, tekanan pada WTI bisa meningkat lagi.
Kondisi pasar minyak terus dipengaruhi oleh keseimbangan antara permintaan domestik dan perilaku pelaku pasar terhadap persediaan. Meskipun ada tantangan makro, keberadaan dukungan dari ketegangan geopolitik menjaga volatilitas di sekitar kisaran 60–65 dolar.
Beberapa analis menilai potensi penurunan lebih lanjut jika laporan IEA mengonfirmasi surplus global, namun premi risiko akibat geopolitis tetap bisa membuat pergerakan harga tidak konsisten.
Untuk investor, kunci utamanya adalah memantau rilis data inventori, komentar OPEC, dan respons pasar terhadap laporan IEA, sambil menerapkan manajemen risiko yang tepat.